PENDAHULUAN
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah swt. Tuhan pencipta alam,
manusia dan kehidupan, tuhan yang mengatur alam semesta, pemberi pahala bagi
hamba yang ta’at kepadaNya dengan jannah, dan penerap ‘adzab kepada hambaNya
yang melanggar perintah dan melaksanakan laranganNya dengan Jahanam, serta
memberi taufik dan hidyahNya selalu sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
kami yang berjudul “ Subyek Pendidikan Dalam Perspektif Tafsir Tarbiyah ”. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi
muhammad saw. tauladan bagi manusia dalam meniti hidup dan kehidupan.
Makalah ini berisikan
tentang ayat-ayat dan hadits-hadits
yang relevan dengan subyek pendidikan serta kami tujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Tafsir Tarbiyah yang di bimbing oleh H. Syamsu Syauqani, Lc., MA. (semoga Allah
selalu merahmatinya). Diharapkan, makalah ini akan memberikan pemahaman
kepada kita tentang konsep kependidikan dalam islam. Dan
kamipun menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna namun inilah usaha kami.
Akhir kata kami sampaikan terimakasih kepada
teman-teman yang telah ikut berpartisipasi membantu demi terselesaikanya.
Semoga rahmat dan hidayah Allah SWT. tetap tercurahkan kepada kita semua. Aamiin.
A.
SUBYEK
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AR-
RAHMAN
: 1 – 4
1). Surat Ar-Rahman
: 1 – 4
﴾٤﴿ عَلَّمَه البَيَانَ ﴾٣﴿ خَلَقَالْإِنسَانَ ﴾٢﴿ عَلَّمَالْقُرْآنَ ﴾١﴿ الرَّحْمَنُ
Artinya :
(1) Allah yang maha pemurah. (2)
Yang telah mengajarkan Al-Quran. (3) Dia
menciptakan manusia. (4) Mengajarnya
pandai berbicara.
2). Tafsir Surat
Ar-Rahman : 1 – 4
Ayat 1 dan 2 :
Pada ayat ini Allah yang maha pemurah menyatakan bahwa Dia telah mengajar
Muhammad Al-Quran dan Muhammad telah mengajarkan umatnya. Ayat ini turun
sebagai bantahan bagi penduduk Makkah yang mengatakan “Sesungguhnya Al-Quran
itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”.An-nahl- 103
Oleh karena
ayat ini mengungkapan beberapa nikmat Allah atas hambaNya, maka surat ini
dimulai dengan menyebut nikmat yang paling besar faedahnya dan paling
banyak manfaatnya bagihamba-Nya, yaitu nikmat mengajar Al-Quran. Maka manusia
dengan mengikuti ajaran Al-Quran akan berbahagialah di dunia dan di akhirat dan
dengan berpegang teguh pada petunjuk-petunjuk-Nya niscaya akan tercapailah
tujuan di kedua tempat tersebut. Al-Quran adalah induk kitab-kitab samawi yang
diturunkan kepada sebaik-baik makhluk Allah yang berada di bumi ini.
Ayat 3 dan 4 :
Dalam ayat ini Allah menyebutkan nimat kejadian manusia yang menjadi dasar
semua persoalan dan pokok segala sesuatu. Sesudah Allah menyatakan nikmat
mengajar Al-Quran pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah menciptakan
jenis makhluk-Nya ini dan diajarkan-Nya pandai membicarakan tentang apa yang
tergores dalam jiwanya dan apa yang terpikir oleh otaknya, kalaulah tidak
mungkin tentu Muhammad tidak akan mengajarkan Al-Quran kepada umatnya.
Manusia adalah makhluk yang
berbudaya, tidak dapat hidup kecuali dengan berjamaah, maka haruslah ada alat
komunikasi yang dapat menghubungkan antara dia dengan saudaranya yang menulis
kepadanya dari penjuru dunia yang jauh dan dari benua-benua serta dapat
memelihara ilmu-ilmu terdahulu untuk dimanfaatkan oleh orang-orang kemudian dan
menambah kekurangan-kekurangan yang terdapat dari orang-orang terdahulu.
Ini adalah suatu anugerah rohaniah
yang sangat tinggi nilainya dan tidak ada bandingannya dalam hidup, dari itu
nikmat ini didahulukan sebutannya dari nikmat-nikmat yang lain. Pertama-tama
dimulai dengan sesuatu yang harus dipelajari, yaitu Al-Quran yang menjamin
kebahagiaan, lalu diikuti dengan belajar kemudian ketiga cara dan metode
belajar, dan seteusrnya berpindah kepada membacakan benda-benda angkasa yang
diambi manfaat darinya.
3). Subjek
Pendidikan Menurut Surat Ar-Rahman Ayat 1 – 4
a. Ar-Rahman
Ar-Rahman
adalah salah satu dari sekian banyak sifat Allah, yang mengandung makna
pengasih kepada seluruh makhluknya didunia tanpa terkecuali, baik makhluk yang
taat ataupun yang mengingkarinya, bahkan kepada iblispun Allah masih “sayang”.
Ayat pertama ini kaitannya dengan pendidikan adalah seorang pendidik atau guru
harus mempersiapkan dirinya dengan sifat rahman, yaitu mempunyai sifat pengasih
kepada seluruh peserta didik atau murid tanpa pandang bulu, baik kepada murid
yang pintar, bodoh, rajin, malas, baik ataupun nakal. Dan semua yang disebutkan di
atas masuk dalam kategori kode etik yang harus dimiliki seorang pendidik.
Menurut Al-Gazhali, ada 17 kode etik yang diperankan pendidik beberapa diantaranya :
1. Menerima segala problem peserta didik dengan hati dan sikap yang
terbuka dan tabah
2. Bersifat lemah lembut dalam menghadapi peserta didik yang tingkat
IQ-nya rendah, serta membinanya sampai pada taraf maksimal,
3. Meninggalkan sifat marah dalam menghadapi problem peserta didik,
4. Memperbaiki sikap peserta didik, dan lemah lembut terhadap peserta
didik yang kurang lancar berbicara,
5. Meninggalkan sifat yang menakutkan bagi peserta didik, terutama
pada peserta didik yang belum mengerti atau mengetahui,
6. Berusaha memperhatikan pertanyaan-pertanyaan peserta didik walaupun
pertanyaannya terkesan tidak bermutu atau tidak sesuai dengan masalah yang
diajarkan.
7. Menjadikan kebenaran sebagai acuan dalam proses pendidikan,
walaupun kebenaran itu datangnya dari peserta didik,
8. Menerima kebenaran yang diajukan peserta didik.
Dalam diri
seorang pendidik, terhimpun sifat-sifat baik yang sepatutnya dimiliki manusia.
Sifat-sifat baik itu merupakan dasar sikap dan tingkah laku yang patut diteladani
subyek (anak) didiknya sebagai orang-orang yang dipimpinnya. Karena sungguh,
sebagai pemimpin maka Allah akan memintai pertanggung jawaban dari apa yang
dipimpinnya, Rasulullah Saw bersabda :
كلّكم راع
وكلّكم مسؤول عن رعيّته
Artinya :
Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggung jawabannya.
Ilmu yang
ditransfer dan diterapkan dengan dasar kasih sayang akan besar efeknya kepada
murid, terutama dalam penyerapan ilmu yang ditransfer dan diinternalisasikan.
Dimulainya
surah ini dengan kata ar-Rahman bertujuan mengundang rasa ingin tahu mereka
dengan harapan akan tergugah untuk mengakui nikmat-nikmat dan beriman kepada
Allah.
b. ‘Allamal Qur’an
Al-quran adalah
kalamullah atau firman Allah, bukan ucapan Nabi atau manusia lainnya. Tidak ada
sepatah katapun ucapan Nabi dalam Al-quran. Pada saat Al-quran diturunkan, Nabi
melarang para sahabatnya untuk menghafal atau mencatat, apalagi mengumpulkan
ucapannya. Beliau hanya menyuruh untuk menghafal dan mencatat Al-quran. Hal ini
semata-mata untuk menjaga kemurnian firma Allah. Sedangkan Syekh Ali
Ash-Shabuni mengatakan, Al-quran adalah kalam Allah yang mu’jiz, diturunkan
kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantaraan Malaikat terpercaya,
Jibril, tertulis dalam mushhaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir,
membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri
dengan surat An-Nas. Al-quran merupakan sumber utama dalam pendidikan islam.
Menurut Drs. Ahmad D Marimba dalam bukunya “Pengantar Filsafat Pendidikan
Islam” menuliskan : Apakah dasar pendidikan Islam? Singkat dan tegas ialah
firman Allah dan sunnah Rasulullah. Kalau pendidikan diibaratkan bangunan, maka
isi Al-quran dan hadislah yang menjadi fundamennya.
Al-quran
dijadikan sebagai sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama karena
Al-quran memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Tuhan. Allah Swt
menciptakan manusia dan Allah pula yang mendidik manusia, yang mana isi
pendidikan itu telah termaktub dalam wahyu-wahyu Nya. Tidak satu persoalanpun,
termasuk soal pendidikan, yang luput dari jangkauan Al-quran.
Maka benarlah sabda Rasulullah Saw mengenai Al-quran, yang Artinya : “Dari Ustman r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Sebaik-baik kamu adalah orang yang berlajar Al-quran dan mengajarkannya”
Al-quran adalah inti agama. Menjaga dan menyebarkannya berarti menegakkan agama, sehingga sangat jelas keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, walaupun bentuknya berbeda-beda. Yang paling sempurna adalah mempelajarinya, dan akan lebih sempurna lagi jika mengetahui maksud dan kandungannya. Karena begitu pentingnya kedudukan Al-quran, maka Allah Ar-Rahman langsung yang mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad.
Mengajarkan Al-qur’an. Ini menunjukan bahwa seorang guru harus terlebih dahulu mempersiapkan Al-qur’an, dalam konteks ini Al-qur’an diterjemahkan dengan materi pelajaran. Sebelum guru berada dihadapan siswa, guru harus terlebih dahulu mempersiapkan dalam artian menguasai, memahami materi yang akan disampaikan kepada siswa, baik materi pokok yang merupakan keahliannya maupun materi penunjang diluar keahliannya. Guru yang hanya menguasai bahan pokok akan melahirkan kegiatan belajar mengajar yang kaku.
c. Kholakol Insan
Manusia adalah makhluk yang mungkin, dapat dan harus dididik, sesuai dengan hakekatnya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt, yang hidup sebagai satu diri (individu) dalam kebersamaan (sosialitas) dalam masyarakat, dan karena memiliki kemungkinan tumbuh dan berkembang, di dalam keterbatasannya sebagai manusia. Pendidikan menjadi keharusan bagi manusia, karena empat fakta yang dihadapinya dalam kehidupan. Manusia hanya akan menjadi manusia karena pendidikan. Mendidik berarti memanusiakan.
Dalam pendidikan Islam, pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik (subyek didik), baik potensi efektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa). Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.
Khalakol Insan (Menciptakan Manusia). Menilik tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak manusia yang sempurna, yang berilmu, berakhlak dan beradab. Tentu tidak ada manusia yang sempurna, namun berusaha menjadi manusia yang sempurana adalah suatu kewajiban. Seorang guru apapun materi yang ia ajarkan hendaknya mengarahkan siswanya menjadi manusia yang berilmu, beradab dan bermartabat yang berujung kepada ketaqwaan kepada Yang Maha Esa, seorang guru bukan hanya mengarahkan pada aspek prestasi saja. Menurut Imam Al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
d. ‘Allamahul Bayan
‘Allamahul Bayan (mengajarnya pandai berbicara). Al-Hasan berkata: "Kata al-Bayan berarti berbicara. Karena siyaq berada dalam pengajaran Al-Quran oleh Allah Ta'ala yaitu cara membacanya. Dan hal itu berlangsung dengan cara memudahkan pengucapan artikulasi, serta memudahkan keluarnya huruf melalui jalannya masing-masing dari tenggorokan, lidah dan dua buah bibir sesuai dengan keragaman artikulasi dan jenis hurufnya.
Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa (subyek didik) benar-benar faham. AI-Bayan berarti jelas. Namun ia tidak terbatas pada ucapan, tetapi mencakup segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut muka. Suatu hal yang juga sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik (guru) dalam mengajar, membimbing, dan melatih muridnya adalah “kebutuhan dan kode etik murid”
Al-Qussy Membagi kebutuhan manusia (subyek didik) dalam dua kebutuhan pokok, yaitu :
a. Kebutuhan primer, yaitu kebutuhan jasmani seperti makan, minum, seks, dan sebagainya.
b. Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan ruhaniah.
Sedangkan Al-Ghazali merumuskan sebelas pokok kode etik peserta didik, diantaranya adalah :
a. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk selalu menyucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.
b. Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya.
c. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga peserta didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
d. Peserta didik harus tunduk pada nasihat pendidik sebagaimana tunduknya orang sakit terhadap dokter.
B. SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AN-NAJM : 5-6
1). Surat An-Najm Ayat 5 – 6
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى )5( ذُو مِرَّةٍ
فَاسْتَوَى )6(
Artinya :
( 5 ) Yang
diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat . ( 6 ) Yang
mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang
asli.
2). Tafsir Surat An-Najm : 5 – 6
Setelah ayat lalu menjelaskan bahwa apa yang diucapkan Nabi
Muhammad Saw. adalah wahyu, kini dijelaskan siapa yang menyampaikannya kepada
beliau. Allah berfirman bahwa: Ia, yakni wahyu yang diterimanya itu, di ajarkan
kepadanya, yakni kepada Nabi Muhammad Saw., oleh malaikat Jibril yang sangat
kuat, pemilik potensi akliah yang sangat hebat; lalu dia, yakni malaikat Jibril
itu, tampil sempurna dengan menampakkan rupa yang asli. Sedang dia, yakni
Malaikat Jibril itu, berada di ufuk langit yang tinggi berhadapan dengan orang-orang
yang menengadahkan kepadanya.
Kata ‘Allamahu atau yang diajarkan kepadanya bukan berarti bahwa
wahyu tersebut bersumber dari malaikat Jibril. Seorang yang mengajar tidak
mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar.
Kata mirrah terambil dari kalimat amrartu al-habla yang berarti
melilitkan tali guna menguatkan sesuatu. Kata dzu mirrah digunakan untuk
menggambarkan kekuatan nalar dan tingginya kemampuan seseorang. Al-Biqa’i
memahaminya dalam arti ketegasan dan kekuatan yang luar biasa untuk
melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya tanpa sedikit pun mengarah kepada
tugas selainnya disertai dengan penuh keikhlasan. Ada juga yang memahaminya
dalam arti kekuatan fisik, akal dan nalar. Penjelasan lain dari kata Dzu mirrah
adalah yang mempunyai kecerdasan akal. Sifat Jibril yang pertama menggambarkan
tentang betapa kuat pikiran dan betapa nyata pengaruh-pengaruhnya yang
mengagumkan. Kesimpulannya, bahwa Jibril memiliki kekuatan-kekuatan pikiran,dan
kekuatan-kekuatan tubuh. Sebagaimana telah diriwayatkan bahwa ia pernah
mencukil kaum luth dari laut hitam yang waktu itu berada dibawah tanah, lalu
memanggulnya pada kedua sayap dan diangkatnya dari negeri itu ke langit,
kemudian dibalikkan. Pernah pula ia berteriak kepada kaum Tsamud, sehingga
mereka meti semua.
Ayat tersebut merupakan jawaban dari perkataan mereka yang
mengatakan bahwa Muhammad itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan
dongeng-dongengan(legenda-legenda orang terdahulu).
Penjelasan lain tentang wahyu yang diterima nabi Muhammad
Saw.adalah bahwasannya yang mengajarkan wahyu itu kepada beliau adalah makhluk
yang sangat kuat. Ibnu katsir dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan yang
sangat kuat itu adalah malaikat Jibril.
“Yang mempunyai keteguhan”(pangkal ayat 6), Mujahid, Al-Hasan dan
Ibnu Zaid memberi arti: “yang mempunyai keteguhan”. Ibnu Abbas memberi arti:
“yang mempunyai rupa yang elok”. Qatadah memberi arti: “yang mempunyai bentuk
badan yang tinggi bagus.” Ibnu katsir ketika memberi arti berkata: “tidak ada
perbedaan dalam arti yang dikemukakan itu. Karena malaikat Jibril itu memeng
bagus dipandang mata dan mempunyai kekuatan luar biasa. Lanjutan ayat ialah:
fastawa, yang artinya: yang menampakkan diri yang asli.”(ujung ayat 6)
Menurut riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang diterimanya dari Abdullah
bin Mas’ud, bahwasannya raulullah itu melihat rupanya yang asli itu dua kali.
Yang pertama adalah ketika Rasulullah Saw.meminta kepada Jibril supaya sudi
memperlihatkan diri menurut rupanya yang asli. Lalu kelihatanlah dia dalam
keasliannya itu memenuhi ufuk. Yang kedua adalah ketika dia memperlihatkan diri
dalam keadaannya yang asli itu, ketia Jibril akan menemani beliau pergi Isra’
dan Mi’raj. Dalam pernyataan diri dari keasliannya itu, Nabi melihatnya dengan
sayap yang sangat banyak, yakni 600 sayap.
Kaitannya dengan judul makalah kami yakni subyek pendidikan, yang
dimaksud pengajar atau yang menjadi subyek disini adalah Malaikat Jibril, bukan
berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari Malaikat Jibril. Seseorang yang
mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar.
Bukankah kita mengajar seorang anak membaca, padahal bacaan itu juga bukan
merupakan karya kita? Menyampaikan sesuatu secara baik dan benar adalahsatu
bentuk pengajaran. Malaikat menerima wahu dari Allah dengan tugas
menyampaikannya secara baik dan benar kepada Nabi Muhammad Saw., dan itulah
yang dimaksud pengajaran disini.
Sedangkan jika dikaitkan dengan pengajar atau pendidik yakni
seorang guru, maka dapat di ambil beberapa kriteria guru yakni diantaranya
adalah seorang guru itu harus mempunyai kekuatan, baik kekuatan secara jasmani
maupun rohani. Kekuatan jasmani yakni berupa totalitas dalam mengajar,
penampilan dan perilaku yang baik,karena perilaku kita akan dijadikan cerminan
oleh murid-murid kita.
Sedangkan yang dimaksud dengan kekuatan rohani yakni cerdas aqliyah
maupun fi’liyah, kesungguhan dalam menyampaikan mata pelajaran kepada anak
didik, serta kesabaran dalam mendidik dan menanamkan akhlakul karimah kepada
peserta didik.
C. SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SURAT AN-NAHL: 43-44
1). SURAT AN-NAHL : 43-44
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ)43( بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ
الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ )44(
Artinya :
(43) Dan
Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri
wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan
jika kamu tidak mengetahui, ( 44 ) keterangan-keterangan
(mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan
supaya mereka memikirkan.
2). PENJELASAN TAFSIR AYAT
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلأَ رِجَلآ نٌوْحِيْ
اِلَيْهِمْ = Tidakkah
Kami mengutus para rasul sebelummu kepada umat-umat untuk mengajak mereka agar
mentauhidkan Aku dan melaksanakan perintah-Ku, kecuali mereka itu adalah
laki-laki dari Bani Adam yang Kami wahyukan kepada mereka, bukan para malaikat.
Ayat ini menguraikan kesesatan pandangan mereka menyangkut kerasulan Nabi
Muhammad SAW. Dalam penolakan itu mereka selalu berkata bahwa manusia tidak
wajar menjadi utusan Allah, atau paling tidak dia harus disertai oleh malaikat.
Allah SWT menyatakan bahwa Dia tidak mengutus Rasul sebelum
diutusnya Nabi Muhammad saw terkecuali laki-laki yang diutusnya itu diberi
wahyu. Ayat ini menggambarkan bahwa Rasul-rasul yang diutus untuk menyampaikan
wahyu hanyalah laki-laki dari keturunan Adam as sehingga Muhammad saw diutus
untuk membimbing umatnya agar mereka itu beragama tauhid dan mengikuti
bimbingan wahyu. Maka yang pantas diutus ialah Rasul-rasul dari jenis mereka
dan berbahasa seperti mereka. Pada saat
Rasulullah saw diutus orang-orang Arab menyangkal bahwa Allah tidak mungkin mengutus utusan
yang berasal dari manusia seperti mereka, seperti disebutkan dalam firman Allah
SWT:
وَقَالُوا
مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا
أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا
Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul ini memakan makanan dan
berjalan di pasar-pasar?. Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat
agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?".
(Q.S Al Furqan: 7)
Dan firman-Nya:
أَكَانَ
لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ
وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ
الْكَافِرُونَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ
Artinya :
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia, bahwa kami mewahyukan
kepada seorang laki-laki di antara mereka: "Berilah peringatan kepada
manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang
tinggi di sisi Tuhan mereka". Orang-orang kafir berkata:
"Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar tukang sihir yang
nyata". (Q.S Yunus: 2)
Mengenai penolakan orang-orang Arab pada kerisalahan Muhammad
karena ia seorang manusia biasa, dapatlah diikuti sebuah riwayat dari
Adh-Dhahhak yang disandarkan kepada Ibnu Abbas bahwa setelah Muhammad saw
diangkat menjadi utusan, orang Arablah yang mengingkari kenabiannya, mereka
berkata: "Allah SWT lebih Agung bila Rasul Nya itu bukan manusia. Kemudian
turun ayat-ayat surah Yunus.
فَسْئَلُوْا اَهْلَ ألذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ
تَعْلَمُوْنَ = Maka tanyakanlah kepada ahli kitab dahulu diantara orang-orang
Yahudi dan Nasrani, apakah para utusan yang diutus kepada mereka itu manusia
ataukah malaikat? Jika mereka itu malaikat silakan kalian ingkari Muhammad SAW
tetapi jika mereka itu manusia, jangan kalian ingkari dia.
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang musyrik agar
bertanya kepada orang-orang Ahli Kitab sebelum kedatangan Muhammad saw, baik kepada
orang-orang Yahudi ataupun kepada orang-orang Nasrani. أهل
الذكر (Ahli dzikri): Ahli
kitab yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah menerima kitab-kitab dan
ajaran dari Nabi-nabi terdahulu. Di sini tersebut Ahlu-Dzikr, orang yang ahli peringatan,
atau orang yang berpengetahuan lebih luas. Arti umum ayat menyuruhkan orang
yang tidak tahu bertanya kepada yang lebih tahu, karena ilmu pengetahuan itu adalah
umum sifatnya, berfaedah mencari kebenaran. Menurut yang diriwayatkan oleh
Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa ahlu-dzikri di sini maksudnya ialah Ahlul-kitab.
Sebelum ahlu kitab ini dipengaruhi oleh nafsu ingin menang sendiri, mereka akan
mengakui bahwa Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang terdahulu itu semuanya adalah
manusia belaka, manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah.
Apakah di dalam kitab-kitab mereka itu disebutkan suatu keterangan
bahwa Allah pernah mengutus malaikat kepada mereka. Maka kalau disebutkan di
dalam kitab mereka itu bahwa Allah pernah menurunkan malaikat sebagai utusan
Allah bolehlah mereka itu mengingkari kerisalahan Muhammad. Akan tetapi apabila
yang disebutkan di dalam kitab mereka Allah hanya mengirim utusan kepada mereka
manusia yang sejenis dengan mereka maka tidak benarlah apabila orang-orang
musyrik itu mengingkari kerisalahan Muhammad saw.
Dengan ayat ini kita mendapat pengertian bahwasannya kita boleh
menuntut ilmu kepada ahlinya, dimana saja dan siapa saja, sebab yang kita cari
ialah kebenaran.
بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ =
keterangan-keterangan dan zubur, para rasul yang diutus sebelum itu semua
membawa keterangan-keterangan yakni mukjizat-mukjizat nyata yang membuktikan
kebenaran mereka sebagai rasul dan sebagian pembawa pula zubur yakni
kitab-kitab yang mengandung ketetapan-ketetapan hukum dan nasihat-nasihat yang
seharusnya menyentuh hati. Kata Zubur yakni tulisan, yang dimaksud disini adalah
Taurat, Injil, Zabur dan Shuhuf Ibrahim as. Allah SWT menjelaskan bahwa
rasul-rasul itu diutus dengan membawa keterangan-keterangan yang membuktikan
kebenarannya, yaitu mukjizat dan kita-kitab. Yang dimaksud dengan keterangan di
dalam ayat ini ialah dalil-dalil yang membukakan kebenaran kerisalahannya dan
di maksud dengan Az Zabur ialah kitab yang mengandung tuntunan hidup dan tata
hukum yang diberikan oleh Allah kepada hamba Nya.
وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ الذِّكْرَلِتُبَيِّنَ للِنَّاسِ
مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ = dan Kami turunkan
padamu adz-dzikr agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah
diturunkan kepada mereka. Kata adz-dzikr disini adalah al Qur’an, dari segi
bahasa adalah antonim kata lupa. Al Qur’an dinamai demekian karena ayat-ayatnya
berfungsi mengingatkan manusia. Dan Allah SWT menerangkan pula bahwa Dia telah
menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, agar beliau memberikan
penjelasan kepada manusia apa saja yang telah diturunkan kepada mereka , yaitu
perintah-perintah, larangan-larangan, aturan-aturan hidup lainnya yang harus
mereka perhatikan, dan kisah-kisah umat-umat terdahulu agar supaya dijadikan
suri tauladan dalam menempuh kehidupan
di dunia.
Pengulangan kata turun dua kali yakni وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ dan مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ
mengisyaratkan perbedaan penurunan yang dimaksud, yang pertama adalah penurunan
al Qur’an kepada Nabi Muhammad yang bersifat langsung dari Allah dan dengan
redaksi pilihan-Nya sendiri. Sedang yang kedua adalah ditujukan kepada manusia
seluruhnya. Juga agar Nabi saw menjelaskan kepada mereka hal-hal yang mereka
anggap, yaitu menjelaskan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an serta memerinci kandungannya yang bersifat
global sesuai dengan kemampuan berpikir dan kepahaman mereka terhadap
tujuan-tujuan pembentukan syari’at.
وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ = Supaya mereka berfikir, yakni agar mereka
berfikir dan tidak mengikuti jejak para pendusta terdahulu sehingga mereka tidak
ditimpa azab seperti yang telah ditimpakan kepada mereka. Allah tidak
membinasakan mereka dengan azab yang cepat, akan tetapi dengan keadaan yang
menakutkan seperti angin kencang, petir dan gempa. Disini terdapat penangguhan
waktu yang mungkin didalamnya terdapat pengabaian, ini adalah salah satu dampak
rahmat Allah terhadap hamba-Nya.
Di akhir ayat Allah SWT menandaskan agar mereka suka memikirkan
kandungan isi Al-Qur’an dengan pemikiran yang jernih baik terhadap
prinsip-perinsip hidup yang terkandung di dalamnya, tata aturan yang termuat di
dalamnya serta tamsil ibarat yang ada di dalam ayat-ayatnya, agar mereka itu
memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.
3). PELAJARAN AYAT DAN KAITANNYA DENGAN SUBYEK PENDIDIKAN
Pelajaran yang terkandung dalam dua ayat di atas, antara lain :
a) Wajib bertanya kepada orang yang berilmu
bagi orang yang tidak tahu tentang urusan
agamanya, baik itu masalah akidah, ibadah, maupun hukum.
b) As-Sunnah merupakan kebutuhan mutlak,
karena as-Sunnah menjelaskan secara rinci kandungan al-Qur’an yang bersifat
global dan menjelaskan makna-maknanya.
Kaitannya dengan subyek pendidikan adalah bahwa orang-orang yang
berilmu dan Rasulullah saw adalah sebagai pelaku pendidikan. Orang-orang yang
berilmu harus menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya tentang urusan
agamanya, baik dalam masalah akidah, ibadah maupun masalah hukum. Juga
Rasulullah saw menjelaskan secara rinci kandungan al-Qur’an yang bersifat
global, dan menerangkan makna-maknanya.
Dalam proses pendidikan diperlukan subyek atau pelaku pendidikan,
subyek ini bisa berupa pendidik (yang memberikan pengajaran atau pendidikan)
dan peserta didik (yang mendapat pengajaran atau pendidikan). Seperti terdapat
dalam ayat diatas, Nabi Muhammad mendapat pelajaran dari Allah dan menyampaikan
kepada umatnya, dalam hal ini posisi Nabi Muhammad sebagai peserta didik dan
juga sebagai pendidik karena Nabi menerima pelajaran sekaligus juga
menyampaikan dan mengajarkannya kepada umatnya. Selain itu kita juga diperintahkan
untuk bertanya kepada orang lain tentang sesuatu yang belum diketahui, walaupun
orang tersebut tidak beragama Islam selama itu dilakukan demi kebenaran.
Pendidik dan peserta didik sangat erat hubungannya, karena tanpa
salah satu dari mereka maka proses pendidikan tidak akan berjalan. Dengan
adanya proses pendidikan diharapkan siswa menangkap materi yang disampaikan
oleh pendidik dengan baik dan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan dalam
kesehariannya.
Untuk menjadi seorang pendidik yang baik maka harus mempunyai
sifat-sifat seperti : Kasih sayang kepada peserta didik, lemah lembut, rendah
hati, adil, konsekuen, perkataan sesuai dengan perbuatan, sederhana, dan
menghormati ilmu yang bukan pegangannya.Begitu pula
sebaliknya seorang peserta didik juga harus mempunyai sikap tawadhu’, ulet,
sabar dan tekun dalam menuntut ilmu.
KESIMPULAN
Dari uraian surat-surat diatas, dapat
kami simpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan subjek pendidikan.
ü Surat Ar-Rahman ayat 1 – 4 :
1) Kata Ar-Rahman menunjukkan sifat-sifat
pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak
mulia khususnya kepada peserta didik dan kepada masyarakat pada umumnya.
2) Al-Quran merupakan sumber pendidikan
Islam yang pertama dan utama, karena Al-Quran memiliki nilai absolut yang
diturunkan dari Allah
3) Tujuan utama dari pendidikan Islam adalah
mencetak manusia yang sempurna, berilmu, berakhlak dan beradab.
4) Ayat ini kaitannya dengan proses
pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah
dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa (subyek didik)
benar-benar faham.
ü Surat An-Najm :5-6
Seorang guru itu harus mempunyai
kekuatan, baik kekuatan secara jasmani maupun rohani. Kekuatan jasmani yakni
berupa totalitas dalam mengajar, penampilan dan perilaku yang baik,karena
perilaku kita akan dijadikan cerminan oleh murid-murid kita.
ü Surat An-Nahl 43 - 44 :
Q.S. An-Nahl ayat 43-44 terdapat hubungan
yang sangart erat dengan pendidikan, khususnya tentang subyek pendidikan. Hal
ini ditunjukkan dengan pengajaran yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad
melalui malaikat Jibril tentang ketauhidan dan sebagainya dan Allah menyuruh
Nabi Muhammad untuk menyampaikannya kepada umatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar