Selasa, 04 Juni 2013

fisika dan Al-Qur'an




BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
            Sejarah islam dari abad awal sampai kejayaannya takan bisa terpisah dari isi dan kandungan dalam Al- Qur’an semua sejarah masa lalu banyak kita jumpai.begitu pula dengan semua hal yang kita pelajari sekarang antara lain bentuk-bentuk peristiwa yang melatar belakangi ada nya ilmu-ilmu yang kita pelajari sekarang sangat beragam, di antaranya berupa: hasil pemikiran dari pakar-pakar tafsir Al-Qur’an, penelitian-penelitian kandungan dari ayat-ayat Al-Qur’an, dan masih banyak lagi yang belum kita ketahui. Dengan adanya itu kami ingin mengetahui makna atau arti kandungan yang sesungguhnya dari surat-surat yang diberikan ALLAH SWT semoga dengan adanya makalah ini kita semakin menebalkan iman kita kepada sang pencipta yaitu ALLAH SWT amin ya robbal alamin.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah ilmu fisika dalam persepsi Al-Qur’an ?
2.      Bagaimana sikap hidup kita dengan fisika ?

C.    Tujuan Rumusan Masalah
1.      Memahami ilmu fisika dalam persepsi Al-Qur’an
2.      Mengetahui sikap hidup kita dengan fisika



BAB II
PENBAHASAN
MEMAHAMI AL-QUR’AN dengan FISIKA dan SEBALIKNYA

A.    Ilmu Fisika dalam Persepsi Al-Qur’an
            Kalau kita mempelajari ilmu fisika maka ada empat unsur penting yang berada di dalam nya. Unsur utama dalam kegiatan fisika yang penting adalah observasi atau pengamatan terhadap bagian alam yang ingin kita ketahui sifat dan kelakuannya pada kondisi tertentu. Dalam kegiatan fisika, apabila pengamatan atau obserfasi terhadap kelakuan alam diganti dengan penghayalan merupakan suatu kesalahan, kecuali apabila khayalan tersebut didukung oleh perhitungan matematika yang dijabarkan dari kelakuan-kelakuan lain yang telah di ketahui.
            Sehubungan dengan keharusan manusia untuk mengenal alam sekelilingnya dengan baik, maka ALLAH SWT  memerintahkannya dalam surat yunus ayat 101 sebagai berikut:




Artinya: “Katakanlah, pehatikanlah apa yang ada dilangit dan di bumi,      tidak    bermanfaat tanda kekuasaan ALLAH dan Rasul-rasul yang       memberi          peringatan bagi orang-orang yag tidak beriman (yunus: 101)
            Perintah itu menunjukkan agar manusia mengetahui sifat-sifat dan kelakuan alam disekitarnya, yang akan menjadi tempat tinggal dan sumber bahan serta makanan deal hidupnya. Dengan mengetahui sifat-sifat dan kelakuan alam tersebut manusia dapat mengambil manfaat darinya untuk kemaslahatan bagi semua yang ada didalam.
            Dalam surat Al-gahasyiyah ayat 17-20 juga dijelaskan:




Artinya: Maka mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia     diciptakan. Dan           langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan     gunung-gunung bagaimana ia di        tegakkan. Dan bumi    bagaimana ia di hamparkan (Al-Gahasyiyah: 17-20)
Dan ayat tersebut di atas dapat dikatakan bahwa menjadi suatu keharusan bagi manusia untuk memperhatiak sifat dan tingkahlaku alam semesta. Memperhatikan disini dapat di artikan sebagai usaha untuk memahami proses-proses alamiah yang terjadi di dalam nya. Halini persis sama dengan apa yang dilakukan oleh para ilmuan fisika atau pengembangan sains pada umum nya, melakukan observasi dengan penuh perhatian untuk dapat menjawab pertanyaan bagaimana proses itu terjadi, memperhatikan alam semesta dan merenunginya sampai mendapatkan suatu pemahaman tentang sifat dan kelakuan serta proses-proses alami yang ada di dalam nya merupakan suatu aktifitas  membaca ayat ALLAH SWT, sebab didalam Al-Quran sudah dijelaskan bahwa memperhatikan alam semesta yang berarti juga mempelajari ilmu fisika adalah bagian dari membaca ayat ALLAH SWT.
            Setelah melakukan observasi atau pengamatan unsur kedua yang merupakan hal penting dalam pengembangan fisika adalah pengukuran dalam dunia fisika tidak terlepas dari ahlukur-mengukur segala fenomena ke alam selalu di jelaskan dengan auntifikasi, kegiatan ini dilakukan agar sesuatu menjadi seragam dalam suatu pengertian atau bisa dikatakan agar suatu kejanggaln ke alaman yang mempunyai pengertian unifersal bisa dimengerti juga oleh oranglain, sesuatu akan menjadi kabur dalam fisika apabila dinyatakan dengan kualitatip saja. Seorang fisikawan mendengar ucapan seperti angin semilir-semilir sehingga membuat mata mengantuk agar berkomentar, bahwa ungkapan tersebut bukanlah pernyataan fisika tetapi puisi. Tetapi udara yang mengalir dengan kecepatan 9km/jam dengan suhu 230C dan kelembaban 85% akan dinyatakan sebagai pernyataan fisika. Jadi dalam fisika harus ada pernyataan yang dapat di pahami oleh semua orang (harus terukur). Pemahaman ini sejalan dengan firman ALLAH SWT dalam Al-Quran surat Al-Qamar ayat 49 yang berbunyi:




Artinya: Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran              (Al-Qamar: 49)
            Seandainya ALLAH SWT menciptakan segala sesuatu tanpaukuran, maka akan terjadi ketidak seimbangan di dalamnya. Ukuran yang diciptakan oleh ALLAH SWT sangat tepat, sehingga alam yang seperti kita rasakan  ini adalaah benar-benar seimbang.

            Dalam fisika apabila ingin berkarya membuat suatu terapan, juga akan melakukan pengukuran sampai mendapatkan hasil yang di harapkan. Apabila ingin membuat ruang bersuhu 220C maka akan membuat rekayasa dalam lingkungan sekitarnya sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
            Besaran-besaran yang dapat di ukur disebut besaran fisika atau besaran fisis. Cotoh tentang suhu di atas mengandung pengertian bahwa kelembaban memiliki ukuran terentu. Gerak udara yang di ciptakan  ALLAH SWT memiliki ukuran kecepatan. Bumi dan benda-benda angkasa lain juga punya ukuran, serta mempunyai masa tertentu sehingga dapat menjadi seimbang, kemudian dari pengukuran dibuat persamaan matematis sehingga lebih mudah dipahami oleh semua orang. Jadi apa yang ada dalam fisika ada kesesuaiaan dengan Al-Quran.
            Unsur-unsur penting yang ke tiga, dalam pengembangan fisika adalah analisis terhadap data yang terkumpul dari berbagai pengukuran atau besaran-besaran fisis yang ter libat, hal ini dilakukan melalui peroses pemikiran kritis, dan dilanjutkan dengan evaluasi terhadap hasil-hasilnya dengan penalaran yang sehat sehingga menjacapai kesimpulan yang rasional.
            Unsur yag ke empat adalah peranan pemikiran kritis dan penalaran raional. Dalam hal ii Al-Quran surat An-Nahl ayat 11-12 meyatakan yang artinya:
            Dia meumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman: zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda kekuasaan ALLAH SWT bagi kamu yang memikirkan. Dan dia menundukkan malam dansiang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu di tundukkan untukmu degan perintah-Nya, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar adalah tanda-tanda kekuasaan ALLAH SWT bagi kaum yang memahaminya (An-Nahl: 11-12)
            Alam semesta dan proses-proses alam yang ada di dalamnya, sifat dan kelakua alam yag telah disimpulkan oleh para ilmuan fisika di sebut sebagai hukum alam, sedangkan para ilmuan muslim penyebutnya sebagai sunattullah.
            Dari penjelasan empat unsur penting dari ilmu fisika di atas menunjukkan bahwa semua sejarah dan apa yang ada di alam ini terdapat  dalam Al-Quran.






B.     Fisika dan Sikap Hidup
            Sebagai saintis berusaha menarik kesimpulan dari beberapa teori utuk dijadikan dan di ambil sebagai pelajaran atausebagai acuan dalam kehidupan, karena sudah jelas sains adalah sunatullah, maka alam semesta adalah dipahami mempunyai keteraturan yang keteratutan itu adalah bukti ketundukkan alam terhadap perintah ALLAH SWT. Dengan begitu, apabila saintis menjadikan beberapa teori untuk menyikapi hidup, maka itu bukan sesuatu yang keliru. Sikap itu misalnya mencoba menjadikan materi fisika klasik dan materi fisika moderen sebagai sikap untuk lebih membuat bijaksana.
            Kalau kita belajar fisika maka materinya yang kita pelajari bisa dikelompokan menjadi materi dalam lingkup fisika klasik dan fisika moderen. Fisika klasik dan fisika moderen bukan terkait dengan masalah zaman. Kapanpun zaman berjalan, fisika klasik akan tetap fisika klasik dan fisika moderen akan tetap fisika moderen. Fisika klasik dan fisika moderen terkait dengan objek yang kita pelajari. Objek yang kita pelajari adalah objek yang ukurannya sedang-sedang saja. Sedangkan objek yang di pelajari dalam fisika moderen yang didalamnya mekanika kuantum, sedangkan dalam fisika klasik ada mekanika new tonion ukurannya sangat kecil dan kecepatannya sangat cepat (mungkin mendekati kecepatan cahaya 300.000 km/s). Didalam fisika selalu ada persamaan atau rumus yang dapat menggambarkan dan menjelaskan suatu penomena fisis maka kita akan mengenal rumus-rumus yang ada pada ruang lingkup fisika klasik seperti beberapa rumus pada newton, juka mengenal rumus-rumus dalam lingkup fisika moderen seperti teori relatifitas einstein, persamaan serodinger dan lain-lain.
             Rumus-rumus dalam fisika klasik tidak akan dapat mendeskripsikan dan menjelaskan fenomena yang ada pada fisika moderen. Lebihjelasnya kalau ada fenomena yang objeknya sangat kecil, maka dengan menggunakan rumus-rumus fisika klasik fenomena itu tidak dapat di jelaskan. Tertapi sebaliknya rumus-rumus yang ada dalam lingkup fisika moderen masih memungkinkan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan fenomena yang objeknya yang ada dalam fisika klasik
            Jadi tidak cukup kita hanya belajar fisika klasik tetapi sangat perlu juga mempelajari fisika moderen untuk lebih dapat memahami penomena alam. Dalam surat Al-Kahfi ada cerita menarik dimana Nabi Musa AS. Melakukan pengembaraan yang akhirnya bertemu dengan Nabi Khidir, dan Nabi Musa mengutarakan keinginginannya untuk banyak belajar pada Nabi Khidir. Dari pengembaraan itu banyak hal yang menarik yang dapat di ambil hikmahnya. Nabi Khidir mendapatkan perahu dan dilubanginya sehingga bocor. Nabi Khidir bertemu seorang pemuda lalu dibunuhnya, peristiwa itu membuat Nabi Musa menjadi tidaksabar karna jelas-jelas Nabi Khidir melanggar syariat (lebih jelasnya baca dalam surat Al-Kahfi)
            Kalu peristiwa itu kita kaitkan dengan fisika kelasik dan fisika moderen, maka dapat dikatakan bahwa Nabi Khidir menggunakan rumus-rumus yang ada dalam fisika moderen, sedangkan Nabi Musa menggunakan fisika klasik. Sehingga Nabi Musa tidak sabar, dengan katalain Nabi Musa masih dalam ruang lingkup eksoteris (syariat) tapi Nabi Khidir sudah dapat memahami apa dibalik syariat itu. Dapat dikatakan pula, Nabi Khidir sudah dalam lingkup esotaris (hakikat) sehingga membuat kita menjadi lebih bijaksana dalam memaknai hidup dan bersikap dalam hidup.
            Salahsatu objek dari fisika moderen adalah tentang cahaya. Cahaya mempunyai kecepatan menjalar 300.000 km/s. Apa sebenarnya cahaya itu?
            Kalu kita bertanya kepada anak SD, SMP, SMU, dan Mahasiswa lain atau bahkan masyarakat umum tentang apa yang membuat kita melihat, mak secara sepontan mereka akan menjawab, mata. Tetapi bila mereka diajak keruang yang gelap tidak akan bisa dilihat. Kejadian ini dapat ditentukan, misalnya apabila lampu listrik padam pada malam hari, maka benda-benda disekeliling kita tidak terlihat jadi apa sebenarnya membuat kita melihat? Jawabannya adalah cahaya. Cahaya sangat berarti dalam hidup. Kita akan sirna tanpa cahaya, karna bisa dikatakan bahwa cahaya adalah sumber dari kehidupan. Tumbuhan akan mati tanpa cahaya karena tidak dapat berfotosintesis. Kalau tumbuhan matu maka hewan akan mati dan manusia juga akan mati sehingga tidak akan adalagi kehidupan di muka bumi.
            Apa hakikat cahaya? Belajar tentang hakiakat cahaya sama sulit dengan hakikat manusia. Selama ini yang kita pelajari tentang manusia adalah karakter, sikap, tingkahlaku, dan lain-lain. Begitu juga caha yang terjadi selama ini dalam mempelajari cahaya yaitu dipelajari adalah sifat-sifat cahaya. Jadi apa hakikat cahaya?
            Dalam Al-Quran disebutkan “Allaahu nuurussamawa tiwal ardi” yang artinya  bahwa ALLAH adalah cahaya langit dan bumi, jadi tidak bisa kita melihat apapun yang ada di alam tanpa cahaya, tanpa ALLAH SWT. Jadi kita hidup dan bisa melakukan apa saja di alam ini karna ALLAH. Dengan demikian, belajar fisika juga dapat membuat kita lebih sadar dan dapat meningkatkan kita pada keinginan untuk mencari hakikat kebenaran.
            Kembali pada soal fisikaklasik dan fisika moderen. Lalu bagaimana caranya untuk dapat memahami fisika moderen ? 
1.      Kita paham dalam fisika klasik
2.      Kita siapkan jiwa untuk percaya bahwa dalam alam ini ada objek yang sangat kecil dan super cepat sehingga kita bisa menerima materi dalam fisika moderen. Banyak ilmuan klasik tidak mepercayai penemuan einstein, karena mereka hanya percaya pada hukum-hkum new ton. Baru setelah banyak dilakukan percobaan, mereka dapat menerima. Sama halnya belajar tentang masalah eksoteris islam dari awal tidak percaya, bahkan apreori, maka tidak akan dapat membuat kita paham dan membuat kita tidak sabar seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa, “innaka lan tastati’u ma’iya sobro”
3.      Mempelajari betul-betul fisika moderen
          Contoh yang lain untuk membuat  kita bijaksana dalam hidup adalah dengan mengalami gejala gerafitasi. Menurut penjelasan diatas, bahwa unsur yang paling penting dalam fisika adalah pengamatan, pengukuran, analisis dengan penalaran yang baik. Karena pengamatan manusia kadang terbatas dan memang terbatas, sehingga menjadi kurang teliti, dan seiring dengan perjalan waktu serta perkembangan alat ukur yang mampu menghasilkan ukuran yang akurat maka akan di peroleh kesimpulan lain dari kesimpulan pada pengamatan sebenarnya. Itu sebabnya, merupakan suatu kewajiban apabila kemudian ada teori lama yang harus di abaikan digantikan dengan teori baru.
          Dari hal tersebut dapat ditarik pelajaran bahwa pengamatan ada batasnya, sehingga tidak dibenarkan jika manusia bersikap arogan atau sombong dalam hal mempertahankan suatu ilmu. Sekedar sebagai contoh untuk sedikit membuktikan keterbatasan tersebut, adalah:
          Saya mempunyai dua buah benda. Benda pertama saya pegang dengan tangan kanan berupa sebuah dompet yang isinya uang receh isinya seratusan sebanyak sepuluh, dan pada tangan kiri saya pegang uang receh seratus rupiah. Apabila saya bertanya mana yang lebih berat antara benda ditangan kanan dengan benda ditangan kiri? Tentu jawabannya adalah benda pada tangan kanan. Kalau saya bertanya lagi mana yang lebih dilu sampai kelantai apabila secara bersama-sama keduanya di jatuhkan? Maka anda berfikir sejenak akan menjawab dompet akan jatuh lebih dulu katena dompet itu lebih berat
          Hal itu adalah jawaban yang salah karena menurut teori gerak, jatuh bebas dompet dan uang receh akan jatuh bersama-sama. Hal ini  disebabkan karena kecepatan grapitasi yang sama besar dan tidak di pengaruhi oleh massa dan gaya berat.
          Kenapa jawabannya salah, karena keterbatasan pengamat dan keterbatasan dalam nalar.oleh karena itu, di dalam menghadapi segala sesuatu harus benar-benar di amati dan kemudian di lakukan analisis dengan nalar yang sungguh-sungguh sehingga tidak menjadi mudah menyalahkan orang lain dan tidak mudah merasa kitalah yang paling benar. Dengan kata lain, kita akan lebih bijaksana dalam mengikapi segala peristiwa.
          Masih banyak contoh-contoh yang lain dari teori sains unuk bisa di jadikan pelajaran atau perilaku dalam bersifat dan bertindak. Tetapi ternyata Al-Qur’an lah yang menjadi pedoman  dalam mengarungi kehidupan yang serba terbatas ini.
          Dari itu sangat lah jelas bahwa antara al-qur’an dengan ilmu pengetahuan sangatlah erat atau bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahauan alam bersumber dari al-qur’an namun karan keterbatasan dari pengetahuan kita sehingga kita belum mampu menggapaiatau menggali semua apa yang ada dalam Al-qur’an contoh kecil saja tentang bumi di kelilingi oleh matahari sebagai mana yang di jelaskan dalam surah yasin yang berbunyi:
والشمش تجري لمستقر لها ذالك تقدير العزيز العليم
Artinya:dan adapun matahari  berjalan di tempat peredarannya .demikianlah ketetapan Allah mahaperkasa dan maha mengetahui (qs.yassin)
          Dari itulah kita sebagai ummat manusia sudah di sediakan sesuatu dengan selengkap mungkin tinggal kita mengaisnya dengan baik .sehubungan denagn keterkaitan fisika dengan al-qur’an bahwa bukan hanya saja ayat tuhan dalam keadaan tersurat yang harus kita ketahui tapi ayat yang tersirat pun kita harus ketahui dengan adanya alam semesta ini maka hal tersebut mengajarkan kita agar menjadi orang yang benar-benar berfikir.
          Kalau kita membahas masalah hubungan antara dua hal tersebut maka sangatlah banyak kita temukan dalam Al-qur’an dan hal tersebut tidak ada yang bertentangan dengan para ahli dalam ilmu fisika.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Dari hasil penelitian diatas kami dapat menyimpulkan bahwa ada empat unsur penting yang berada di dalam memahami ilmu fisika dalam persepsi Al-Qur’an anyara lain Unsur utama dalam kegiatan fisika yang penting adalah observasi atau pengamatan terhadap bagian alam yang ingin kita ketahui sifat dan kelakuannya pada kondisi tertentu, unsur kedua yang merupakan hal penting dalam pengembangan fisika adalah pengukuran dalam dunia fisika tidak terlepas dari ahl ukur-mengukur segala fenomena ke alam selalu di jelaskan dengan auntifikasi, unsur-unsur penting yang ke tiga, dalam pengembangan fisika adalah analisis terhadap data yang terkumpul dari berbagai pengukuran atau besaran-besaran fisis yang ter libat, unsur yag ke empat adalah peranan pemikiran kritis dan penalaran raional.
                        kesimpulan dari beberapa teori itu utuk  di jadikan sebagai pelajaran atau sebagai acuan dalam kehidupan, karena sudah jelas sains adalah sunatullah, maka alam semesta adalah dipahami mempunyai keteraturan yang keteratutan itu adalah bukti ketundukkan alam terhadap perintah ALLAH SWT. Dengan begitu, apabila saintis menjadikan beberapa teori untuk menyikapi hidup, maka itu bukan sesuatu yang keliru. Sikap itu misalnya mencoba menjadikan materi fisika klasik dan materi fisika moderen sebagai sikap untuk lebih membuat bijaksana.



DAFTAR PUSTAKA

Ustz zul karnaen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar