Selasa, 04 Juni 2013

Ulumul Qur'an muhkam dan



                                              BAB II
                                         PEMBAHASAN
2.1 Pengertian muhkam dan Mutasyabih
              Kata muhkam berasaaal dari kata ihkam yang secara bahasa berarti kekukuhan, kesempurnaan,keseksamaan, dan pencegahan.sedangkan kata mutayabih berasal dari kata tayabuh yang secara bahasa berarti kesempurnaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal.
            Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menggunakan kedua kata ini antara lain:
Pertama,firman Allah:
. . .كِتبٌ اُ حْكِمَتْ ءَ ا يتُهُ
Artinya: “. . .sebuah kitab yang disempurnakan(dijelaskan) ayat-ayatnya.”(Q.S,HUD(11)
Kedua,firman Allah:
. . .كِتَبًا مُتَشبِهً مَثَا نِى
Artinya: “. . .(yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutasyabih) lagi berulang-ulang. . .”(Q.S.AL-Zumar(39): (32).
Ketiga.firman Allah:
uqèd ü“Ï%©!$# tAt“Rr& y7ø‹n=tã |=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB ×M»tƒ#uä ìM»yJs3øt’C £`èd ‘Pé& É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur ×M»ygÎ7»t±tFãB ( $¨Br'sù tûïÏ%©!$# ’Îû óOÎgÎ/qè=è% Ô÷÷ƒy— tbqãèÎ6®KuŠsù $tB tmt7»t±s? çm÷ZÏB uä!$tóÏGö/$# ÏpuZ÷GÏÿø9$# uä!$tóÏGö/$#ur ¾Ï&Î#ƒÍrù's? 3 $tBur ãNn=÷ètƒ ÿ¼ã&s#ƒÍrù's? žwÎ) ª!$# 3 tbqã‚Å™º§9$#ur ’Îû ÉOù=Ïèø9$# tbqä9qà)tƒ $¨ZtB#uä ¾ÏmÎ/ @@ä. ô`ÏiB ωZÏã $uZÎn/u‘ 3 $tBur ㍩.¤‹tƒ HwÎ) (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇÐÈ  
Arrtinya :” Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

[183] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
[184] Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
           Secara sepintas,ketiga ayat ini bisa menimbulkan  pemahaman yang bertentangan.Karena itu,Ibn Habib al-Naisaburi menceritakan adanya tiga pendapat tentang  masalah ini.pertama berpendapat bahwa Al-Qur’an seluruhnya muhkam berdasarkan ayat pertama.Kedua berpendapat bahwa Al-Qur’an seluruhnya  mutasyabih berdasarkan ayat kedua.Ketiga berpendapat bahwa sebagian ayat Al-Qur’an  muhkam dan lainnya mutasyabih berdasarkan ayat ketiga dan inilah yang paling sahih.Sedangkan ayat pertama,dimaksudkan dengan muhkamnya Al-Qur’an adalh kesempurnaanya dan tidak adanya pertentangan antar ayat-ayatnya.maksud mutasyabih dalam ayat kedua menjelaskan segi kesamaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kebenaran,kebaikan,dan kemukjizatannya.
                Secara istilah,para ulama berbeda pendapat pula dalam merumuskan definisi muhkam dan mutasyabih.beberapa definisi muhkam dan mutasyabih menurut al-Zarqani sebagai berikut:
          1.          Muhkam ialah ayat yang jelas maksudnyalagi nyata yang tidak mengandung kemunkunan nasakh.mutasyabih adalah ayat yang tersembunyi(maknanya),tidak diketahui maknanya baik secara akli maupun naqli,hanya Allah yang mengetahui maknanya,seperti datangnya hari kiamat,huruf-huruf yang terputus-putus di awal surat.
          2.          Muhkam ialah ayat yang diketahui maksudnya,baik secara nyata melalui takwil.Mutasyabih ialah ayat yang hanya Allah mengetahui maksudnya,
          3.          Muhkam ialah ayat yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan makna takwil.mutasyabih ialah ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna takwil.
          4.          Muhkam ialah ayat yang berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan.mutasyabih ialah ayat-ayat yang tidak berdiri sendiri,tetapi memerlukan keterangan.

          5.          Muhkam ialah ayat yang seksama susunan dan urutannya yang membawa kepada kebangkitan makna yang tepat tanpa pertentangan.mutasyabih  ialah ayat yang makna seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada bersamanya indikasi atau melalui konteksnya.
          6.          Muhkam ialah ayat yang jelasa maknanya dan tidak masuk kepadanya kepelikan.mutasyabih adalah ayat yang maksudnya belum jelas dan menimbukan kepeliikan.
          7.          Muhkam ialah ayat yang tnjukkan maknanya kuat,yaitu lafal nash dan lafal zahir.mutasyabih ialah ayat yang tunjukkan maknanyatidak kuat,yaitu lafal yang mujmal,muawwal dan musykil.

       Kemudian,menurut Al-Zarqani ayat-ayat mutasyabih dapat dibagi tiga macam yaitu:
1.       Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya,seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya,pengetahuan tentang hari kiamat dan hal-hal gaib lainnya.Allah berfirman QS.Al-an’am:59)

وَ عِنْدَ هُ مَفَا تِحُ ا لْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا ا لاَّ هُو. . .
Atinya:” dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib;tidak ada yang mengetahui keciali Dia sendiri. . .”
Firman Allah QS.Lukman:34)
¨bÎ) ©!$# ¼çny‰YÏã ãNù=Ïæ Ïptã$¡¡9$# Ú^Íi”t\ãƒur y]ø‹tóø9$# ÞOn=÷ètƒur $tB ’Îû ÏQ%tnö‘F{$# ( $tBur “Í‘ô‰s? Ó§øÿtR #sŒ$¨B Ü=Å¡ò6s? #Y‰xî ( $tBur “Í‘ô‰s? 6§øÿtR Äd“r'Î/ <Úö‘r& ßNqßJs? 4 ¨bÎ) ©!$# íOŠÎ=tæ 7ŽÎ6yz ÇÌÍÈ  
34. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, Namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

2.       Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian,seperti ayat-ayat mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutan,dan seumpamanya.Allah berfirman:QS.annisa:3

    و انْ خِفْتُمْ ا لاّ تُقْسِطُو ا فىِ ا لْيَتَمَى فَا نْكِحُو ا مَا ط بَ لكمْ مِنَ ا لنِّسَا ء. . .
Artinya:”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim,maka kawinilah wanita-wanita. . .
 Maksud ayat ini tidak jelas dan ketidakjelasannya timbul karena lafalnya yang ringkas.kalimat asalnya berbunyi
÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ  
dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.


[265] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
[266] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.



3.       Ayat-ayat mutayabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukam semua ulama.Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati orang-orang jernih jiwanya dan mujtahid.
                   Dalam pengertian yang sama,Al-Raghib al-Ashfahni memberikan penjelasan yang mirip.menurut dia,mutasyabihat terbagi atas tiga jenis yaitu jenis yang tidak ada jalan mengetahuinya,seperti waktu kiamat,keluarnya dabab,dan sebagainya. jenis yang dapat diketahui oleh manusia, seperti lafal-lafal yang ganjil dan hukum yang tertutup;dan jenis yang hanya diketahui oleh ulama tertentu yang sudah mendalam ilmunya.jenis terahir inilah yang diisyaratkan nabi dengan do’anya bagi Ibn Abbas:
اللّهُمَّ فَقِّهُّ فِى الدِّ يْنِ وَ عَلِّمْهُ ا لتّأ وِ يْل
Artinya:”ya tuhanku,jadikan dia seorang yang paham dalam agama,dan ajarkanlah kepadanya takwil”

2.2 Pendapat Ulama Salaf dan Khalaf Tentang Penafsiran Ayat-Ayat Mutasyabih
         Telah dikemukakan bahwa ayat-ayat mutasyabihat itu berbagai macam sebab dan bentuknya.Dalam bagian ini,pembahasan khusus tentang ayat-ayat mutasyabihat yang menyangkut sifat-sifat tuhan,yang dalam istilah Al-Sayuti”ayat al-sifat”,dan dalam istilah shuby al-shahih”mutasyabih al-shifat”.Ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ini banyak.Diantaranya adalah:
ß`»oH÷q§9$# ’n?tã ĸöyèø9$# 3“uqtGó™$# ÇÎÈ  
5. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy[913].(QS.Thaha:5)

[913] Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.


uä!%y`ur y7•/u‘ à7n=yJø9$#ur $yÿ|¹ $yÿ|¹ ÇËËÈ  
Artinya:” dan datanglah Tuhanmu; sedang Malaikat berbaris-baris”.(QS.Fajr:22)

uqèdur ãÏd$s)ø9$# s-öqsù ¾ÍnÏŠ$t6Ïã ( . . .
Artinya:” dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, . .”(QS.Al-An’am:61)

. . . يحسْر تَى على مَا فرَّ طْتُّ فِى جَنْبِ بِ ا للّه. . .
Artinya :”. . .amat besar penyesalanku atas kelalaianku di sisi Allah. . ,”(QS.Az-Zumar:56)

4’s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u‘ rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ  
27. dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

. . . وَلِتُصْنَعَ عَلى عيْنِى
Artinya :”...dan supaya kamu diasuh atas mataKu”.(QS.thaha:39)
 . . . يَدُ ا للّه فَوْ قَ ا يْدِ يْهِمْ
Artinya :”. . .Tangan Allah di atas tangan mereka”.(QS.Al-fath:10)
. . . ويُحَذِّ رُ كُمُ ا للّه نَفسَهُ. . .
Artinya “. . .dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya.”(QS.Ali imran:28)
            Dalam ayat-ayat ini terdapat kata-kata “bersemayam”, “datang”, “diatas”, “sisis”,” wajah”, “mata”, “tangan”,” dan “diri” yang dijadikan sifat bagi Allah.Kata-kata ini menunjukan keadaan,tempat,dan anggota yang layak bagi yang baharu.Karena ayat-ayat tersebut kata-kata ini dibangsakan kepada Allah yang qadim,maka sulit dipahami makna sebenarnya.karena itu pula ayat-ayat tersebut dinamakan “mutasyabihat al-sifat”.Apakah maksud ayat-ayat ini dapat diketahui oleh manusia atau tidak?
              Untuk menjawab pertanyaan ini,Subhi al-Shalih membedakan pendapat ulama ke dalam dua mazhab.
         1.         Mazhab salaf,yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah.Mereka mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagai yang di terangkan Al-Qur’an.Di antara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Malik.Ketika ditanya tentang isiwa’ ia menjawab:

ا لْإِ سْتِوَ ءُ مَعْلُوْ مٌ وَ ا لْكيْفُ مَجْهُو لٌ و السَّؤ ا لُ عَنْ هَذَ ا بِدْ عَةٌ و أ ظُنَّكَ رَ جُلَ سُوْ ءٍ أَ خْرِ جُوْ هُ عَنِّيْ
Artinya:”istiwa’ itu muhkam,sedangkan caranya tidak diketahui,dan mempelajarinya bid’ah.Aku mengira engkau adalah orang yang tidak baik..keluarlah dia dari tempatku”
Maksudnya,  makna lahir dari kata “istiwa’ jelas telah diketahui olek semua orang.Akan tetapi,pengerian yang demikian secara pasti bukan di maksudkan oleh ayat.Sebab pengertian yang demikian membawa kepada penyerupaan Tuhan dengan sesuatu yang mustahil bagi Allah.Karena itu,Bagaimana cara istiwa’ di sisi Allah tidak diketahui.
           Inilah sistem penapsiran yang diterapkan oleh mazhaf salaf pada umumnya terhadap ayat-ayat mutasyabihat.terdapat dua argumen yaitu aqli dan naqli.argumen aqli yaitu menentukan maksud dari ayat-ayat mutasyabihat hanyalah berdasarkan kaiah-kaidah  kebahasaan daan penggunaanya dikalangan bangsa arab.Penentuan ini hanya dapat menghasilkan ketentuan yang bersifat zanni(tidak pasti).Sedangkan sifat-sifat Allah termasuk masalah aqidah yang dasarnya tidak cukup dengan argumen yang zanni.lantaran dasar yang qat’i tidak diperoleh ,maka kita tidak memutuskan dan menyerahkan ketentuan maksudnya kepada Allah yang Maha  mengetahui dan Maha Mengenal.
         2.         Madzhaf khalaf,yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah.Mereka umumnya berasal dari kalaangan ulama muta’ahirin .Imam Al-Haramain(W.478 H.) pada mulanya termasuk mazhap ini,tetapi kemudian menarik dirinya.Dalam Ar-risalah Annizhamiyyah,Ia menuturkan bahwa prinsip yang dipegang dalam beragama adalah mengikuti mazhab salaf sebab mereka memperoleh derajat dengan cara tidak menyinggung ayat-ayat mutasyabih.
Mazhab ini juga mempnyai argumen aqli dan naqli berupa atsar sahabat.Menurut mereka,suatu hal yang harus dilakukan adalah memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan lafal terlantar tak bermakna.
2.3Hruf-Huruf Al-muqathth’ah Dalam Al-Qr’an
               Di antara ciri-ciri surat makkiah adalah banyak surat-suratnya dimulai dengan huruf-huruf potongan(muqathth’ah) atau pembukaan-pembukaan surat(fawatih al-suwar).
Pembukaan-pembukaan surat ini dapat dikategorikan kepada beberapa bentuk:
1.      Bentuk yang terdiri dari satu huruf.Bentuk ini pada tiga surat,yaitu surat shad(38), Qaf(50), dan wa al-Qalam(68).surat pertama dibuka dengan shad,kedua dengan qaf,dan ketiga dengan nun.
2.      Bentuk yang terdiri dari dua huruf.Bentuk ini terdapat pada sepluh surat.Tujuh diantaranya disebut bawamim yaitu surat yang diawali dengan surat ba dan mim.surat-suratnya adalah:surat Ghafir(40), futsilat(41), Al-syura(42), Al-zukhruf(43), al-Dukhan(44), Al-jatsiyah(45),dan Al-ahqaf(46).Khusus pada surat Al-syura(42) pembukaanya bergabung anara حم   dan عسق.tiga surat lagi adalah طه(20),طس(27) dan يس)38).
3.      Pembukaan surat yang terdiri tiga huruf terdapat pada tiga belas tempat.Enam diantaranya dengan huruf alif lam mim yaitu sutat Al-Baqarah(2), Ali Imran(3), Al-Ankabut(29), Arrum(30),luqman(31), dan Al-sajadah(32).lima dengan huruf alif lam ra yaitu pada surat yunus(10),Hud(11), yusuf(12), Ibrahim(14), dan AL-hjr(15).dua susunan hurufnya طسم terdapat pada pembukaan surat Al-syu’ara’(26), dan AL-qashash(28).
4.      Pembukaan surat yang erdiri dari empat huruf,yaitu المص pada surat Al-A’raf(7) dan المر pada surat Al-ra’d(13).
5.      Pembukaan surat yang terdiri dari lima huruf hanya satu,yaitu كهيعص pada surat maryam(18)



Menurut al-Sayuthi,pembukaan-pembukaan surat termasuk dalam ayat-ayat mutasyabihat.para ulama berbeda pendapat lagi dalam memahami dan menafsirkannya.Dalam hal ini pendapat para ulama terbagi dua.pertama,memahaminya sebagai rahasia yang hanya diketahui oleh Allah.kedua,para ulama memandang huruf-huruf di awal surat sebagai huruf-huruf yang mengandung yang dapt dipahami manusaia.Karena itu,penganut pendapat ini memberikan pengerian dan penafsiran pada huruf-huruf tersebut.
  

Seorang tokoh sufi,Muhyidin Ibn Arabi(w.638 H) menafsirkan awal-awal surat yang tidak diketahui artinya,hakikatnya dapat diketahui oleh orang-orang yang dapat memahami makna dari bentuk-bentuk yang dipahami dengan akal.Allah menjadikan permulaan-permulaan  surat yang tidak diketahiui itu pada 29 surat.Ini adalah kesempurnaan bentuk Al-Qur’an.


Sedangkan orientalis Jerman,Noldeke adalah orang pertama mengemukakan dugaan bahwa huruf-huruf muqaththa’ah itu merupakan penujukkan nama-nama pengumpulnya.Misalnya sin sebagai kependekatan dari nama sahabat sa’d Ibn Abi Waqash,mim dari nama Al-Mughirah,nun dari nama Utsman Ibn Affan dan ba dari nama Abu Hurairah.Kemudian ia meninggalkan pandangan ini dan dalm artikel-artikelnya mengemukakan pandangan bahwa huruf-huruf itu merupakan sibol-simbol yang tak brrmakna ,mungkin sebagai tandatanda magis atau tiruan-tiruan dari tulisan kitab samawi yang disampaikan kepada nabi Muhammad Saw.







                                   BAB III
                               PENUTUP
          
3.1  Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa muhkam adalah ayat-ayat yang sudah jelas maknanya sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang membutuhkan penafsiran terlebih dahulu.sementara itu mazhab salaf yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah. sedangkan mazhab khalaf yaitu orang-orang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan maknanya.Di dalam Al-Qur’an juga terdapat huruf-huruf yang muqaththa’ah yaitu huruf-huruf yang terletak di awal pembukan Al-Qur’an yang kita tidak mengetahui artinya,hanya Allah lah yang mengetahui arti yang terkandung di dalamnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar