BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian muhkam dan Mutasyabih
Kata muhkam
berasaaal dari kata ihkam yang secara bahasa berarti kekukuhan,
kesempurnaan,keseksamaan, dan pencegahan.sedangkan kata mutayabih berasal dari
kata tayabuh yang secara bahasa berarti kesempurnaan dan kesamaan yang biasanya
membawa kepada kesamaran antara dua hal.
Dalam Al-Qur’an
terdapat ayat-ayat yang menggunakan kedua kata ini antara lain:
Pertama,firman Allah:
. . .كِتبٌ اُ حْكِمَتْ ءَ ا يتُهُ
Artinya: “. . .sebuah kitab yang disempurnakan(dijelaskan)
ayat-ayatnya.”(Q.S,HUD(11)
Kedua,firman Allah:
. . .كِتَبًا مُتَشبِهً مَثَا نِى
Artinya: “. . .(yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutasyabih) lagi
berulang-ulang. . .”(Q.S.AL-Zumar(39): (32).
Ketiga.firman Allah:
uqèd üÏ%©!$#
tAtRr& y7øn=tã
|=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB
×M»t#uä
ìM»yJs3øtC £`èd
Pé&
É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur
×M»ygÎ7»t±tFãB
( $¨Br'sù tûïÏ%©!$# Îû óOÎgÎ/qè=è% Ô÷÷y
tbqãèÎ6®Kusù $tB tmt7»t±s? çm÷ZÏB
uä!$tóÏGö/$#
ÏpuZ÷GÏÿø9$#
uä!$tóÏGö/$#ur
¾Ï&Î#Írù's?
3 $tBur ãNn=÷èt
ÿ¼ã&s#Írù's? wÎ)
ª!$#
3 tbqãź§9$#ur Îû ÉOù=Ïèø9$#
tbqä9qà)t
$¨ZtB#uä
¾ÏmÎ/ @@ä.
ô`ÏiB ÏZÏã $uZÎn/u
3 $tBur ã©.¤t
HwÎ)
(#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇÐÈ
Arrtinya :” Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada
kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok
isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang
yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian
ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk
mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan
Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada
ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan
tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang
berakal.
[183] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas
maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
[184] Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat
yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang
dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang
pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan
dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga,
neraka dan lain-lain.
Secara
sepintas,ketiga ayat ini bisa menimbulkan
pemahaman yang bertentangan.Karena itu,Ibn Habib al-Naisaburi
menceritakan adanya tiga pendapat tentang
masalah ini.pertama berpendapat bahwa Al-Qur’an seluruhnya muhkam
berdasarkan ayat pertama.Kedua berpendapat bahwa Al-Qur’an seluruhnya mutasyabih berdasarkan ayat kedua.Ketiga
berpendapat bahwa sebagian ayat Al-Qur’an
muhkam dan lainnya mutasyabih berdasarkan ayat ketiga dan inilah yang
paling sahih.Sedangkan ayat pertama,dimaksudkan dengan muhkamnya Al-Qur’an
adalh kesempurnaanya dan tidak adanya pertentangan antar ayat-ayatnya.maksud
mutasyabih dalam ayat kedua menjelaskan segi kesamaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam
kebenaran,kebaikan,dan kemukjizatannya.
Secara
istilah,para ulama berbeda pendapat pula dalam merumuskan definisi muhkam dan
mutasyabih.beberapa definisi muhkam dan mutasyabih menurut al-Zarqani sebagai
berikut:
1.
Muhkam ialah ayat yang jelas
maksudnyalagi nyata yang tidak mengandung kemunkunan nasakh.mutasyabih adalah
ayat yang tersembunyi(maknanya),tidak diketahui maknanya baik secara akli
maupun naqli,hanya Allah yang mengetahui maknanya,seperti datangnya hari
kiamat,huruf-huruf yang terputus-putus di awal surat.
2.
Muhkam ialah ayat yang diketahui
maksudnya,baik secara nyata melalui takwil.Mutasyabih ialah ayat yang hanya
Allah mengetahui maksudnya,
3.
Muhkam ialah ayat yang tidak
mengandung kecuali satu kemungkinan makna takwil.mutasyabih ialah ayat yang
mengandung banyak kemungkinan makna takwil.
4.
Muhkam ialah ayat yang berdiri
sendiri dan tidak memerlukan keterangan.mutasyabih ialah ayat-ayat yang tidak
berdiri sendiri,tetapi memerlukan keterangan.
5.
Muhkam ialah ayat yang seksama
susunan dan urutannya yang membawa kepada kebangkitan makna yang tepat tanpa
pertentangan.mutasyabih ialah ayat yang
makna seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada bersamanya
indikasi atau melalui konteksnya.
6.
Muhkam ialah ayat yang jelasa
maknanya dan tidak masuk kepadanya kepelikan.mutasyabih adalah ayat yang maksudnya
belum jelas dan menimbukan kepeliikan.
7.
Muhkam ialah ayat yang tnjukkan
maknanya kuat,yaitu lafal nash dan lafal zahir.mutasyabih ialah ayat yang
tunjukkan maknanyatidak kuat,yaitu lafal yang mujmal,muawwal dan musykil.
Kemudian,menurut Al-Zarqani
ayat-ayat mutasyabih dapat dibagi tiga macam yaitu:
1.
Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak
dapat sampai kepada maksudnya,seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat
sifat-sifat-Nya,pengetahuan tentang hari kiamat dan hal-hal gaib lainnya.Allah
berfirman QS.Al-an’am:59)
وَ عِنْدَ هُ مَفَا تِحُ ا لْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا ا لاَّ هُو. . .
Atinya:” dan pada sisi Allahlah
kunci-kunci semua yang gaib;tidak ada yang mengetahui keciali Dia sendiri. . .”
Firman Allah QS.Lukman:34)
¨bÎ) ©!$#
¼çnyYÏã
ãNù=Ïæ
Ïptã$¡¡9$#
Ú^Íit\ãur y]øtóø9$#
ÞOn=÷ètur
$tB Îû ÏQ%tnöF{$# ( $tBur Íôs? Ó§øÿtR
#s$¨B
Ü=Å¡ò6s?
#Yxî ( $tBur Íôs? 6§øÿtR
Ädr'Î/ <Úör& ßNqßJs? 4 ¨bÎ)
©!$#
íOÎ=tæ 7Î6yz ÇÌÍÈ
34.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari
Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam
rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi
mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti
apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, Namun demikian
mereka diwajibkan berusaha.
2.
Ayat-ayat yang setiap orang bisa
mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian,seperti ayat-ayat
mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutan,dan
seumpamanya.Allah berfirman:QS.annisa:3
و انْ خِفْتُمْ ا لاّ تُقْسِطُو ا فىِ ا لْيَتَمَى فَا نْكِحُو ا مَا
ط بَ لكمْ مِنَ ا لنِّسَا ء. . .
Artinya:”Dan jika kamu takut tidak
akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim,maka kawinilah wanita-wanita.
. .
Maksud ayat ini tidak jelas dan
ketidakjelasannya timbul karena lafalnya yang ringkas.kalimat asalnya berbunyi
÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz
wr&
(#qäÜÅ¡ø)è? Îû 4uK»tGuø9$# (#qßsÅ3R$$sù
$tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$#
4Óo_÷WtB
y]»n=èOur yì»t/âur ( ÷bÎ*sù
óOçFøÿÅz
wr&
(#qä9Ï÷ès? ¸oyÏnºuqsù ÷rr&
$tB ôMs3n=tB
öNä3ãY»yJ÷r& 4 y7Ï9ºs #oT÷r&
wr&
(#qä9qãès?
ÇÌÈ
dan jika kamu takut tidak akan dapat
Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu
mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua,
tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[265],
Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang
demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
[265] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri
seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
[266] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu.
sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para
Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. ayat ini membatasi poligami sampai empat
orang saja.
3.
Ayat-ayat mutayabihat yang maksudnya
dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukam semua ulama.Maksud yang
demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati orang-orang jernih
jiwanya dan mujtahid.
Dalam
pengertian yang sama,Al-Raghib al-Ashfahni memberikan penjelasan yang
mirip.menurut dia,mutasyabihat terbagi atas tiga jenis yaitu jenis yang tidak
ada jalan mengetahuinya,seperti waktu kiamat,keluarnya dabab,dan sebagainya.
jenis yang dapat diketahui oleh manusia, seperti lafal-lafal yang ganjil dan
hukum yang tertutup;dan jenis yang hanya diketahui oleh ulama tertentu yang
sudah mendalam ilmunya.jenis terahir inilah yang diisyaratkan nabi dengan
do’anya bagi Ibn Abbas:
اللّهُمَّ فَقِّهُّ فِى الدِّ يْنِ وَ
عَلِّمْهُ ا لتّأ وِ يْل
Artinya:”ya tuhanku,jadikan dia seorang yang paham dalam agama,dan
ajarkanlah kepadanya takwil”
2.2 Pendapat Ulama Salaf dan Khalaf Tentang Penafsiran
Ayat-Ayat Mutasyabih
Telah dikemukakan bahwa ayat-ayat mutasyabihat itu berbagai macam
sebab dan bentuknya.Dalam bagian ini,pembahasan khusus tentang ayat-ayat
mutasyabihat yang menyangkut sifat-sifat tuhan,yang dalam istilah
Al-Sayuti”ayat al-sifat”,dan dalam istilah shuby al-shahih”mutasyabih
al-shifat”.Ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ini banyak.Diantaranya
adalah:
ß`»oH÷q§9$#
n?tã ĸöyèø9$#
3uqtGó$#
ÇÎÈ
5.
(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy[913].(QS.Thaha:5)
[913] Bersemayam di atas 'Arsy ialah
satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan
kesucian-Nya.
uä!%y`ur
y7/u
à7n=yJø9$#ur
$yÿ|¹ $yÿ|¹ ÇËËÈ
Artinya:” dan datanglah Tuhanmu; sedang Malaikat berbaris-baris”.(QS.Fajr:22)
uqèdur ãÏd$s)ø9$# s-öqsù
¾ÍnÏ$t6Ïã
( .
. .
Artinya:” dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas
semua hamba-Nya, . .”(QS.Al-An’am:61)
. . . يحسْر تَى على مَا فرَّ طْتُّ فِى جَنْبِ
بِ ا للّه. . .
Artinya :”. . .amat besar
penyesalanku atas kelalaianku di sisi Allah. . ,”(QS.Az-Zumar:56)
4s+ö7tur çmô_ur
y7În/u rè È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ
27.
dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
. . . وَلِتُصْنَعَ عَلى عيْنِى
Artinya :”...dan supaya kamu diasuh
atas mataKu”.(QS.thaha:39)
. . . يَدُ ا للّه فَوْ قَ ا يْدِ يْهِمْ
Artinya :”. . .Tangan Allah di atas
tangan mereka”.(QS.Al-fath:10)
. . . ويُحَذِّ رُ
كُمُ ا للّه نَفسَهُ. . .
Artinya “. . .dan Allah
memperingatkan kamu terhadap diri-Nya.”(QS.Ali imran:28)
Dalam ayat-ayat ini terdapat
kata-kata “bersemayam”, “datang”, “diatas”, “sisis”,” wajah”, “mata”,
“tangan”,” dan “diri” yang dijadikan sifat bagi Allah.Kata-kata ini menunjukan
keadaan,tempat,dan anggota yang layak bagi yang baharu.Karena ayat-ayat
tersebut kata-kata ini dibangsakan kepada Allah yang qadim,maka sulit dipahami
makna sebenarnya.karena itu pula ayat-ayat tersebut dinamakan “mutasyabihat
al-sifat”.Apakah maksud ayat-ayat ini dapat diketahui oleh manusia atau tidak?
Untuk menjawab pertanyaan
ini,Subhi al-Shalih membedakan pendapat ulama ke dalam dua mazhab.
1.
Mazhab
salaf,yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat
itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah.Mereka mensucikan Allah dari
pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagai
yang di terangkan Al-Qur’an.Di antara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini
adalah Imam Malik.Ketika ditanya tentang isiwa’ ia menjawab:
ا لْإِ سْتِوَ ءُ مَعْلُوْ مٌ وَ ا
لْكيْفُ مَجْهُو لٌ و السَّؤ ا لُ عَنْ هَذَ ا بِدْ عَةٌ و أ ظُنَّكَ رَ جُلَ سُوْ
ءٍ أَ خْرِ جُوْ هُ عَنِّيْ
Artinya:”istiwa’ itu
muhkam,sedangkan caranya tidak diketahui,dan mempelajarinya bid’ah.Aku mengira
engkau adalah orang yang tidak baik..keluarlah dia dari tempatku”
Maksudnya, makna lahir dari kata “istiwa’ jelas telah
diketahui olek semua orang.Akan tetapi,pengerian yang demikian secara pasti
bukan di maksudkan oleh ayat.Sebab pengertian yang demikian membawa kepada
penyerupaan Tuhan dengan sesuatu yang mustahil bagi Allah.Karena itu,Bagaimana
cara istiwa’ di sisi Allah tidak diketahui.
Inilah sistem penapsiran yang
diterapkan oleh mazhaf salaf pada umumnya terhadap ayat-ayat mutasyabihat.terdapat
dua argumen yaitu aqli dan naqli.argumen aqli yaitu menentukan maksud dari
ayat-ayat mutasyabihat hanyalah berdasarkan kaiah-kaidah kebahasaan daan penggunaanya dikalangan
bangsa arab.Penentuan ini hanya dapat menghasilkan ketentuan yang bersifat
zanni(tidak pasti).Sedangkan sifat-sifat Allah termasuk masalah aqidah yang
dasarnya tidak cukup dengan argumen yang zanni.lantaran dasar yang qat’i tidak
diperoleh ,maka kita tidak memutuskan dan menyerahkan ketentuan maksudnya
kepada Allah yang Maha mengetahui dan
Maha Mengenal.
2.
Madzhaf
khalaf,yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat
mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai
dengan keluhuran Allah.Mereka umumnya berasal dari kalaangan ulama muta’ahirin .Imam
Al-Haramain(W.478 H.) pada mulanya termasuk mazhap ini,tetapi kemudian menarik
dirinya.Dalam Ar-risalah Annizhamiyyah,Ia menuturkan bahwa prinsip yang
dipegang dalam beragama adalah mengikuti mazhab salaf sebab mereka memperoleh
derajat dengan cara tidak menyinggung ayat-ayat mutasyabih.
Mazhab ini juga
mempnyai argumen aqli dan naqli berupa atsar sahabat.Menurut mereka,suatu hal
yang harus dilakukan adalah memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang
mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan lafal terlantar tak
bermakna.
2.3Hruf-Huruf Al-muqathth’ah Dalam Al-Qr’an
Di antara
ciri-ciri surat makkiah adalah banyak surat-suratnya dimulai dengan huruf-huruf
potongan(muqathth’ah) atau pembukaan-pembukaan surat(fawatih al-suwar).
Pembukaan-pembukaan surat ini dapat
dikategorikan kepada beberapa bentuk:
1. Bentuk yang terdiri dari satu huruf.Bentuk ini pada tiga surat,yaitu
surat shad(38), Qaf(50), dan wa al-Qalam(68).surat pertama dibuka dengan
shad,kedua dengan qaf,dan ketiga dengan nun.
2. Bentuk yang terdiri dari dua huruf.Bentuk ini terdapat pada sepluh
surat.Tujuh diantaranya disebut bawamim yaitu surat yang diawali dengan surat
ba dan mim.surat-suratnya adalah:surat Ghafir(40), futsilat(41), Al-syura(42),
Al-zukhruf(43), al-Dukhan(44), Al-jatsiyah(45),dan Al-ahqaf(46).Khusus pada
surat Al-syura(42) pembukaanya bergabung anara حم dan عسق.tiga surat lagi adalah طه(20),طس(27) dan يس)38).
3. Pembukaan surat yang terdiri tiga huruf terdapat pada tiga belas
tempat.Enam diantaranya dengan huruf alif lam mim yaitu sutat Al-Baqarah(2),
Ali Imran(3), Al-Ankabut(29), Arrum(30),luqman(31), dan Al-sajadah(32).lima
dengan huruf alif lam ra yaitu pada surat yunus(10),Hud(11), yusuf(12),
Ibrahim(14), dan AL-hjr(15).dua susunan hurufnya طسم
terdapat
pada pembukaan surat Al-syu’ara’(26), dan AL-qashash(28).
4. Pembukaan surat yang erdiri dari empat huruf,yaitu المص pada surat Al-A’raf(7) dan المر pada surat Al-ra’d(13).
5. Pembukaan surat yang terdiri dari lima huruf hanya satu,yaitu كهيعص pada surat maryam(18)
Menurut
al-Sayuthi,pembukaan-pembukaan surat termasuk dalam ayat-ayat mutasyabihat.para
ulama berbeda pendapat lagi dalam memahami dan menafsirkannya.Dalam hal ini
pendapat para ulama terbagi dua.pertama,memahaminya sebagai rahasia yang hanya
diketahui oleh Allah.kedua,para ulama memandang huruf-huruf di awal surat
sebagai huruf-huruf yang mengandung yang dapt dipahami manusaia.Karena itu,penganut
pendapat ini memberikan pengerian dan penafsiran pada huruf-huruf tersebut.
Seorang tokoh
sufi,Muhyidin Ibn Arabi(w.638 H) menafsirkan awal-awal surat yang tidak
diketahui artinya,hakikatnya dapat diketahui oleh orang-orang yang dapat memahami
makna dari bentuk-bentuk yang dipahami dengan akal.Allah menjadikan
permulaan-permulaan surat yang tidak
diketahiui itu pada 29 surat.Ini adalah kesempurnaan bentuk Al-Qur’an.
Sedangkan
orientalis Jerman,Noldeke adalah orang pertama mengemukakan dugaan bahwa
huruf-huruf muqaththa’ah itu merupakan penujukkan nama-nama
pengumpulnya.Misalnya sin sebagai kependekatan dari nama sahabat sa’d Ibn Abi
Waqash,mim dari nama Al-Mughirah,nun dari nama Utsman Ibn Affan dan ba dari
nama Abu Hurairah.Kemudian ia meninggalkan pandangan ini dan dalm
artikel-artikelnya mengemukakan pandangan bahwa huruf-huruf itu merupakan
sibol-simbol yang tak brrmakna ,mungkin sebagai tandatanda magis atau
tiruan-tiruan dari tulisan kitab samawi yang disampaikan kepada nabi Muhammad Saw.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan
diatas dapat kita simpulkan bahwa muhkam adalah ayat-ayat yang sudah jelas
maknanya sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang membutuhkan penafsiran
terlebih dahulu.sementara itu mazhab salaf yaitu orang-orang yang mempercayai
dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat itu dan menyerahkan hakikatnya kepada
Allah. sedangkan mazhab khalaf yaitu orang-orang berpendapat perlunya menakwilkan
ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang
sesuai dengan maknanya.Di dalam Al-Qur’an juga terdapat huruf-huruf yang
muqaththa’ah yaitu huruf-huruf yang terletak di awal pembukan Al-Qur’an yang
kita tidak mengetahui artinya,hanya Allah lah yang mengetahui arti yang
terkandung di dalamnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar