Kamis, 12 September 2013




Diajukan Sebagai Tugas Fiqih Kepada Dosen Pengampu
Untuk Melegkapi Tugas Pada Pembelajaran Fikih





Dosen Pengampu


Dr. Syamsul Aripin M.Ag


Oleh
Agus Hendra Gunawan
15.1.11.4.158


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
MATARAM
2012

  
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia di jadikan ALLAH SWT sebagai mahluk social yang paling membutuhkan antara satu dengan yang lain. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus berusaha mencari karunia ALLAH SWT yang ada di muka bumi ini sebagai sumber ekonomi.
Jual beli dalam fikih islam terkadang dilakukan dengan pembayaran kontan dari tangan ke tangan, dan terkadang denga pembayaran dan penyerahan barang tertunda. Terkadang salah satu keduanya kontan dan yang lainnya terunda. Pembayaran tertunda itu sendiri terkadang di bayar belakangan dengan sekali bayar sekaligus. Terkadang dibayar dengan cicilan, yakni dibayar dengan jumlah tertentu pada waktu-waktu tertenu. Itu disebut jual beli bai’ taqsir atau kredit.
Semakin bertumbuhnya penduduk dan kebutuhan yang semakin meningkat memaksa orang untuk jual beli dengan cara kredit. Salah satu alasannya adalah kurangnya dana kontan untuk membeli atau di alokasikan untuk kebutuhan lain.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian jual beli dalam islam ?
2.      Apa yang menjadi landasan hukum jual beli ?
3.      Apa saja rukun dan syarat jual beli ?
4.      Berapa macam jual beli ?

C.    Tujuan
1.      Untuk memenuhi tugas fikih tentang jual beli.
2.      Untuk mengetahui pengertian jual beli dan hukum-hukumnya
3.      Untuk mengetahui rukun dan syarat jual beli
4.      Untuk mengetahui macam dari jual beli

D.    Metode
Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode membaca, dengan membaca kita akan lebih mudah untuk mengetahui apa definisi dari Jual Beli dan bagian-bagiannya. Membaca juga bias menambah ilmu pengetahuan kita dan sangat bermanfaat untuk kita dan makalah ini.
Membaca merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode sistematika dan kerangka pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan menganalisisnya. Dalam membaca hukum seyogyanya selalu mengikatkan dengan makna yang mungkin dapat diberikan kepada hukum.
E.     Kajian Pustaka
Jual beli merupakan salah satu cara tukar menukar dengan barang yang satu dengan barang yang lain dengan cara yang sama, oleh sebaib itu jual beli yang kita jalani harus sesuai dengan aturan syari’at yang telah di tentukan oleh ALLAH SWT dan Rasulullah SAW.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Jual Beli
Perdagangan atau jual beli menurut bahasa berarti al-Bai’, al-Tijarah, dan al-Mubadalah, sebagai mana Allah swt. Berfirman:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# šcqè=÷Gtƒ |=»tGÏ. «!$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qà)xÿRr&ur $£JÏB öNßg»uZø%y—u‘ #uŽÅ  ZpuŠÏRŸxtãur šcqã_ötƒ Zot»pgÏB `©9 u‘qç7s? ÇËÒÈ    (فا طر:٢٩)                                                                                    
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, Mereka mengabarkan tijarah (perdagangan) yang tidak akan rugi” (Fathir 29).
            Menurut istilah (terminologi) yang di maksud jual beli adalah:
1.      Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.     
2.      تمليك عين ما لية بمعا وضة با ذن شرعي                                                                         “Pemilikan harta benda dengan jalan tukar-menukar yang sesuai dengan aturan syara’.”
3.      مقا با لة ما ل قا بلين للتصزف با يجا ب وقبول على الوجه الما ذون فيه                                      “Saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola (tasharuf) dengan ijab dan qabul, dengan cara yang sesuai dengan syara’.”
4.      مقا بلة ما ل بما ل على وجه مخصوص                                                                             “Tukar-menukar benda dengan benda lain dengan cara yang khusus (dibolehkan).”
5.      مبا دلة ما ل بما ل على سبيل التراضى اونقل ملك بعو ض على الوجه الما ذون فيه                       “Penukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ada penggantinya dengan cara dibolehkan.”
عقد يقوم على اسا س مبا دلة الما ل بلما ل ليفيد تبد ل الملكيا ت على الدوا م                
“Akad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan harta, maka jadilah penukaran hak milik secara tetap.”     
Dari beberapa defenisi di atas dapat dipahami bahwa inti jual beli ialah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela di antara kedua belah pihak, yang satu  menerima benda-benda dan pihak lain yang menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuian  yang telah di berikan syara’ dan disepakati.      
Jual beli merupakan padanan kata dari Al-Bai’ atau Al-Syira’. Kedua kata ini sering di pergunakan pada pengertian yang sama. Secara etimologi, kedua kata ini berarti saling menukarkan (petukaran). Sedang kan secara terminology, terdapat istilah yang bervariasi, tetapi pada dasarnya memiliki unsure jual beli, yaitu di lakukan atas dasar sepakat, adanya tukar menukar benda antara dua pihak, dan adanya pemindahan milik.
Berdasarkan unsur-unsur di atas, Anwar merumuskan definisi jual beli menurut hukum islam sebagaiberikut:
Jual beli adalah suatu akad yang di buat atas dasar kata sepakat antara dua pihak untuk melakukan tukar-menukar suatu benda dengan benda yang lain sebagai ganti dengan memindahkan hak milik atas masing-masing benda itu dari satu pihak kepada pihak yang lain.[1]
B.     Hukum Jual Beli
Hokum jual beli itu sendiri adalah halal, sesuai dengan firman ALLAH SWT  dalam surat AL-Baqarah ayat 275 yaitu
šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr'Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§‘ 4‘ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur ’n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í‘$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ  
Artinya:  orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

[174] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
[175] Maksudnya: orang yang mengambil Riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.
[176] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.
Dan sabda rasulullah SAW yang artinya:
Dari rifa’ah ra: bahwasanya nabi SAW ditanya: pencaharian apakah yang paling baik? Beliau menjawab: ialah orang yang bekerja  dengan tangannya, dan setiap jual beli yang bersih. ( HR. Al-Bazzar dan disahkan hakim).[2]

C.    Macam-macam Jual Beli
Jual beli menurut ulama’ malikiyah ada 2 macam, yaitu jual beli yang bersifat umum dan jual beli yang bersifat khusus.
Jual beli yang bersifat umum ialah suatu perikatan tukar menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan, perikatan adalah akad yang mengikat dua belah pihak, tukar-menuakar yaitu salah satu menyerahkan ganti penukaran atas sesuatu yang ditukarkan oleh pihak lain. Dan sesuatu yang bukan manfaat ialah bahwa benda yang ditukarkan adalah dzat (berbentuk), ia berfungsi sebagai obyek penjualan, jadi bukan manfaatnya atau bukan hasilnya.
Jual beli yang bersifat khusus ialah ikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan bukan pula kelezatan yang mempunyai daya tarik, penukarannya bukan emas dan bukan pula perak, bendanya dapat direalisir dan ada seketika (tidak di tangguhkan) , tidak merupakan hutang baik barang itu ada dihadapan si pembeli maupun tidak, barang yang sudahdiketahui sifat-sifatnya atau sudah diketahui terlebih dahulu.[3]
D.    Rukun dan Syarat Jual Beli
1.      Rukun jual beli ada 3, yaitu:
a)      Akad (ijab qabul)
b)      Orang-orang yang berakad( penjual dan pembeli )
c)      Ma’kud alaih  ( obyek akad )
            Akad ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli, jaul beli belum dikatakan syah sebelum ijab dan Kabul dilakukan, sebab ijab Kabul menunjukkan kerelaan ( keridhaan ), pada dasrnya ijab kabulm dilakukan dengan lisan, tapi kalau tidak mungkin, seperti bisu atau yang lainnya, maka boleh ijab Kabul dengan surat menyurat yang mengandung arti ijab dan kabul.
            Adanya kerelaan tidak dapat dilihat sebab kerelaan berhubungan dengan hati, oleh karena itu kerelaan dapat diketahui melalui tanda-tanda lahirnya, tanda yang jelas menunjukkan kerelaan adalah ijab dan Kabul, Rasulullah SAW bersabda :
عن ابى هريرة رض عن النبى ص م قال لايغترقن اثنا ن الاعن تراض   روه ا بوداودوالترمذى             
“ Dari abu hurairah ra dari Nabi SAW bersabda : janganlah dua orang yang jual beli berpisah sebelum saling meridhai “ ( riwayat Abu Daud dan Tirmidzi )
قل النبى ص م انما البيع عن تراض (روا ه ابومجاه)
      “ Rasulullah SAW. Bersabda : sesungguhnya jual beli hanya syah dengan  saling merelakan “ ( riwayat Ibn Hibban dan Ibn Majah )
            Jual beli yang menjadi kebiasaan, seperti jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan sehari-hari tidak disyaratkan ijab dan Kabul, ini adalah pendapat jumhur.[4]
            Menurut fatwah ulam syafi’iyah bahwa jual beli barang-barang yang kecilpun harus ijab dan Kabul tetapi menurt imam al-nawawi dan ulama muta’akhitin safiyah, berpendirian bahwa boleh jual beli barang-barang yang kecil dengan tidak ijab dan Kabul seperti membeli sebungkus rokok.
2.      Syarat-syarat benda yang menjadi obyek akad ialah:
a)      Suci atau mungkin untuk di sucikan
b)      Memberi manfaat menurut syara’
c)      Jangan ditaklikan atau dikaitkan dengan hal-hal lain
d)     Tidak dibatasi waktunya
e)      Dapat diserhkan dengan cepat atau lambat
f)       Milik sendiri
g)      Diketahui barang yang diperjualbelikan
E.     Jual Beli yang Terlarang
Ada beberapa jenis jual beli yang dilarang Agama Di antaranya, yaitu:
a)      Barang yang dihukumkan nakjis oleh agama, seperti anjing, babi, berhala, bangkai, dan khamar.
b)      Jual beli sperma (mani) hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan dengan betina, agar dapat memperoleh turunan, jual beli ini haram hukumnya. Rasulullah saw. Bersabda:
عنابن عمرراض قا ل نهى رسول الله ص م عن عسب الفحل (رواه البجا رى)                            
“Dari Ibnu Umar ra. Berkata; Rasulullah saw. Telah melarang menjual mani binatang” (Riwayat Bukhari).
c)      Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya, jual beli seperti ini dilarang, karena barangnya belum ada dan tidak tampak juga. Rasulullah asw bersabda:
عن ابن عمررض انرسولله ص م نهى عن بيع حبل الجلة (روا ه البخا رى ومسلم)
“Dari Ibnu Umar ra. Rasulullah saw. Telah melarang penjualan sesuatu yang masih dalam kandungan induknya” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
d)     Jual beli dengan muhaqallah, haqalah mempunyai arti tanah, sawah dan kebun, maksud muhaqallah di sini ialah menjual tanam-tanaman yang masih di ladangoi atau di sawah, hal ini dilarang agama ada perasangkaan riba di dalamnya.
e)      Jual beli dengan mukhadarah, yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen, seperti menjual rambutan yang masih hijau, mangga yang masih kecil-kecil. Hal ini dilarang karena barang tersebut masih samar, dalam artian mungkin saja buah tersebut jatuh tertiup angin kencang atau yang lainnya sebelum diambil oleh pembelinya.
f)       Jual beli dengan muammasah, yaitu jual beli secara sentuh menyentuh, misalkan seseorang menyentuh sehelai kain dengan tangannya diwaktu malam atau siang hari, maka orang yang menyentuh berarti telah membeli kain tersebut. Hal ini dilarang karena mengandung tipuan dan kemungkinan akan menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. [5]
F.     Jual Beli yang DIhalalkan
Jual beli yang dihalalkan oleh syara’ (Agama Islam) ada 3 ketentuan bahwa barang yang diperjual belikan diantaranya :
1.      Dapat di lihat oleh pembeli
2.      Dapat di ketahui keadaan dan sifatnya
3.      Suci dan bermanfaat
Maksud adanya ketantuan-ketentuan tersebut agar tidak ada kericuhan dan dalam ada (tidak terbawa) harus diketahui keadaan dan sifatnya. Barang belum tampak dan tidak diketahui keadaannya, tidak boleh dijualbelikan. Hadis telah menyebutkan bahwa Nabi saw, melarang jual beli barang yang tidak di ketahui keadaannya.
Barang yang diperjualbelikan harus suci dan bermanfaat untuk manusia. Tidak boleh haram berjualbelikan barang-barang yang nakjis atau tidak bermanfaat, seperti : Arak, bangkai, babi, anjing, berhala, dan lain-lain.
Nabi saw Bersabda:
الله تعا لى حرم بيع الخمروالميتة والخنز يرولاصنام                          ان  
Nabi bersabda : “ Allah taala melarang jual beli arak, bangkai, babi, anjing dan berhala. (Bukhari dan Muslim).
Adapun barang yang boleh dijualbelikan ada 5 syarat, yaitu :
1.      Suci
2.      Bermanfaat
3.      Milik penjual (disukainya)
4.      Bias diserahkan
5.      Diketahui keadaannya
Barang yang nakjis atau tidak bermanfaat tidak boleh dijualbelikan (seperti keterangan di atas). Jual beli harus milik sendiri atau yang dikuasakan kepadanya. Jadi miliknya sendiri atau milik orang lain yang telah dikuasakan, dan untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain yang telah menguasakannya.
Kalu menjual milik orang lain atau membeli untk orang laintanpa ada penguasaan, maka jual beli itu tidak sah. Sesuai dengan sabda Nabi saw.
“Tidak ada talak (cerai) kecuali apa yang dimilikinya, tidak membebaskan (budak) kecuali miliknya, tidak menjual  kecuali miliknya, dan tidak ada pemenuhan nazar kecuali dengan miliknya.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud)
G.    Jual Beli yang Dilarang Tapi DIperbolehkan
Ada beberapa macam jual beli yang dilarang oleh agama tetapi sah hukumnya, Cuma orang yang melakukannya mendapat dosa, jual beli beli tersebut diantara lain:
1.      Menawar barang yang sedang ditawar orang lain, seperti seseorang berkata: “ tolaklah harga tawaranya itu, nanti aku yang membeli dengan harga yang lebih mahal”. Hal ini di larang karena akan menyakiti oramg lain, Rasulullah saw. Bersabda:
لايسوم الر جل على سوم ٲخيه (روا ه البخا رى ومسلم)                                                       
“Tidak boleh seseorang menawar di atas tawaran saudaranya” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
2.      Jual beli dengan Najasyi, ialah seseorang menambah atau melebihi harga temannya, dengan maksud memancing-mancing orang, agar orang itu mau membeli barang kawannya, hal ini dilarang agama. Rasullah saw. Bersabda:
نهى رسولالله ص م عن النجش (روا ه البخا رى ومسلم)                                                     
“Rasulullah saw.  Telah melarang melakukan jual beli dengan najasyi” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
3.      Menjual di atas penjualan orang lain, umpamanya seseorang berkata: “ kembalikan saja barang itu kepada penjualnya, nanti barangku saja kau beli dengan harga yang lebih murah dari itu. Rasulullah saw. Bersabda:
قل رسول لله ص م ولايبيع الرجل على بيع ٲخيه (روا ه البخا رى ومسلم)                                 
“rasulullah saw. Bersabda; seorang tidak boleh menjual atas penjulan orang lain” (Riwayat Bukhari dan Muslim)


BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Jual beli adalah suatu perjanjian yang di lakukan oleh kedua belah pihak dengancara suka rela sehingga keduanya dapat saling menguntungkan maka akan terjadilah penukaran hak milik secara tetap dengan jalan yang di benarkan oleh syara’. Yang dimaksut sesuai dengan ketetapan hokum adalah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukundalam jual beli, maka jika syara’ dan rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan ketentuan syara’.
B.  Saran
Untuk saudara-saudari umat muslim agar melaksanakan jual beli sesui dengan berdasarkan hokum, rukun dan syarat yang telah di tentukan oleh ALLAH SWT agar terhindar dari riba dan mendapat keridoan ALLAH SWT.



DAFTAR PUSTAKA


Al-Jaziri.2002.Fiqih ‘Ala Madzabib  Al-Arba’ah.Jakarta,Erlangga

Al-Khalani.1989.Subul Al-Salam.Jakarta,PT.Sinar  Buku

Drs.Muslihun.2005.Fiqih Ekonomi.Jakarta,PT.Mahasatya
Rifa’I Moh, Aziz Abd,1989 fiqih, semarang, CV. Wicaksana

Ryasid Sulaiman .1985.Fiqih Islam.Jakarta,Erlangga  


[1] Drs. Muslihun Muslim, M. Ag, fiqih ekonomi, mataram, LKIM IAIN Mataram, 2005, hal. 174.
[2] Drs. Haji moh. Rifa’I, Drs. Rs. Abd Aziz, fiqih, semarang, CV. Wicaksana  1984, hal. 5.
[3] Al-jaziri,Fiqih ‘Ala Madzabib al-arba’ah, hlm.151.
[4] Al- kahlani, subul al-salam, halm. 4.
[5] Sulaiman Rasyid,fiqih islam,1985 hlm. 178-179.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar