Diajukan Sebagai Tugas Fiqih Kepada Dosen Pengampu
Untuk Melegkapi Tugas Pada Pembelajaran Fikih
Dosen Pengampu
Dr. Syamsul Aripin M.Ag
Oleh
Agus Hendra Gunawan
15.1.11.4.158
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
MATARAM
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia di jadikan ALLAH SWT sebagai
mahluk social yang paling membutuhkan antara satu dengan yang lain. untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus berusaha mencari karunia ALLAH SWT
yang ada di muka bumi ini sebagai sumber ekonomi.
Jual beli dalam fikih islam
terkadang dilakukan dengan pembayaran kontan dari tangan ke tangan, dan
terkadang denga pembayaran dan penyerahan barang tertunda. Terkadang salah satu
keduanya kontan dan yang lainnya terunda. Pembayaran tertunda itu sendiri
terkadang di bayar belakangan dengan sekali bayar sekaligus. Terkadang dibayar
dengan cicilan, yakni dibayar dengan jumlah tertentu pada waktu-waktu tertenu.
Itu disebut jual beli bai’ taqsir atau kredit.
Semakin bertumbuhnya penduduk dan
kebutuhan yang semakin meningkat memaksa orang untuk jual beli dengan cara
kredit. Salah satu alasannya adalah kurangnya dana kontan untuk membeli atau di
alokasikan untuk kebutuhan lain.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa
pengertian jual beli dalam islam ?
2.
Apa
yang menjadi landasan hukum jual beli ?
3.
Apa
saja rukun dan syarat jual beli ?
4.
Berapa
macam jual beli ?
C.
Tujuan
1.
Untuk
memenuhi tugas fikih tentang jual beli.
2.
Untuk
mengetahui pengertian jual beli dan hukum-hukumnya
3.
Untuk
mengetahui rukun dan syarat jual beli
4.
Untuk
mengetahui macam dari jual beli
D.
Metode
Metode yang digunakan dalam makalah
ini adalah metode membaca, dengan membaca kita akan lebih mudah untuk
mengetahui apa definisi dari Jual Beli dan bagian-bagiannya. Membaca juga bias
menambah ilmu pengetahuan kita dan sangat bermanfaat untuk kita dan makalah
ini.
Membaca merupakan suatu kegiatan ilmiah yang
didasarkan pada metode sistematika dan kerangka pemikiran tertentu yang
bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan
menganalisisnya. Dalam membaca hukum seyogyanya selalu mengikatkan dengan makna
yang mungkin dapat diberikan kepada hukum.
E.
Kajian Pustaka
Jual beli merupakan salah satu cara tukar menukar dengan barang
yang satu dengan barang yang lain dengan cara yang sama, oleh sebaib itu jual
beli yang kita jalani harus sesuai dengan aturan syari’at yang telah di
tentukan oleh ALLAH SWT dan Rasulullah SAW.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Jual Beli
Perdagangan atau jual beli menurut bahasa berarti al-Bai’,
al-Tijarah, dan al-Mubadalah, sebagai mana Allah swt. Berfirman:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# cqè=÷Gt |=»tGÏ. «!$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qà)xÿRr&ur $£JÏB öNßg»uZø%yu #uÅ ZpuÏRxtãur cqã_öt Zot»pgÏB `©9 uqç7s? ÇËÒÈ (فا طر:٢٩)
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab
Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami
anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, Mereka
mengabarkan tijarah (perdagangan) yang tidak akan rugi” (Fathir 29).
Menurut
istilah (terminologi) yang di maksud jual beli adalah:
1.
Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan jalan
melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling
merelakan.
2.
تمليك عين ما لية بمعا وضة با ذن
شرعي
“Pemilikan harta benda dengan jalan tukar-menukar
yang sesuai dengan aturan syara’.”
3.
مقا با لة ما ل قا بلين للتصزف با يجا ب
وقبول على الوجه الما ذون فيه “Saling tukar harta, saling
menerima, dapat dikelola (tasharuf) dengan ijab dan qabul, dengan cara yang
sesuai dengan syara’.”
4.
مقا بلة ما ل بما ل على وجه مخصوص
“Tukar-menukar benda dengan
benda lain dengan cara yang khusus (dibolehkan).”
5.
مبا دلة ما ل بما ل على سبيل التراضى
اونقل ملك بعو ض على الوجه الما ذون فيه “Penukaran benda dengan benda
lain dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ada
penggantinya dengan cara dibolehkan.”
عقد يقوم على اسا
س مبا دلة الما ل بلما ل ليفيد تبد ل الملكيا ت على الدوا م
“Akad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan
harta, maka jadilah penukaran hak milik secara tetap.”
Dari beberapa defenisi di atas dapat dipahami bahwa
inti jual beli ialah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang
mempunyai nilai secara sukarela di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain yang menerimanya
sesuai dengan perjanjian atau ketentuian
yang telah di berikan syara’ dan disepakati.
Jual beli merupakan padanan kata dari Al-Bai’ atau Al-Syira’. Kedua
kata ini sering di pergunakan pada pengertian yang sama. Secara etimologi,
kedua kata ini berarti saling menukarkan (petukaran). Sedang kan secara
terminology, terdapat istilah yang bervariasi, tetapi pada dasarnya memiliki
unsure jual beli, yaitu di lakukan atas dasar sepakat, adanya tukar menukar
benda antara dua pihak, dan adanya pemindahan milik.
Berdasarkan unsur-unsur di atas, Anwar merumuskan definisi jual
beli menurut hukum islam sebagaiberikut:
Jual beli adalah suatu akad yang di buat atas dasar kata sepakat
antara dua pihak untuk melakukan tukar-menukar suatu benda dengan benda yang
lain sebagai ganti dengan memindahkan hak milik atas masing-masing benda itu
dari satu pihak kepada pihak yang lain.[1]
B.
Hukum Jual Beli
Hokum
jual beli itu sendiri adalah halal, sesuai dengan firman ALLAH SWT dalam surat AL-Baqarah ayat 275 yaitu
úïÏ%©!$# tbqè=à2ù't (#4qt/Ìh9$# w tbqãBqà)t wÎ) $yJx. ãPqà)t Ï%©!$# çmäܬ6ytFt ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºs öNßg¯Rr'Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìøt7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§ 4ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur y$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $pkÏù crà$Î#»yz ÇËÐÎÈ
Artinya: orang-orang yang
Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan
mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),
Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan
jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya
apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya
(terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu
adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
[174] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah
pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah
penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak
jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran
emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam
ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat
Arab zaman jahiliyah.
[175] Maksudnya: orang yang mengambil Riba tidak tenteram jiwanya
seperti orang kemasukan syaitan.
[176] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini,
boleh tidak dikembalikan.
Dan
sabda rasulullah SAW yang artinya:
Dari
rifa’ah ra: bahwasanya nabi SAW ditanya: pencaharian apakah yang paling baik?
Beliau menjawab: ialah orang yang bekerja
dengan tangannya, dan setiap jual beli yang bersih. ( HR. Al-Bazzar dan
disahkan hakim).[2]
C.
Macam-macam Jual Beli
Jual beli menurut ulama’ malikiyah ada 2 macam, yaitu jual beli yang
bersifat umum dan jual beli yang bersifat khusus.
Jual beli yang bersifat umum ialah suatu perikatan
tukar menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan, perikatan adalah
akad yang mengikat dua belah pihak, tukar-menuakar yaitu salah satu menyerahkan
ganti penukaran atas sesuatu yang ditukarkan oleh pihak lain. Dan sesuatu yang
bukan manfaat ialah bahwa benda yang ditukarkan adalah dzat (berbentuk), ia
berfungsi sebagai obyek penjualan, jadi bukan manfaatnya atau bukan hasilnya.
Jual beli yang bersifat khusus ialah ikatan
tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan bukan pula kelezatan yang
mempunyai daya tarik, penukarannya bukan emas dan bukan pula perak, bendanya
dapat direalisir dan ada seketika (tidak di tangguhkan) , tidak merupakan
hutang baik barang itu ada dihadapan si pembeli maupun tidak, barang yang
sudahdiketahui sifat-sifatnya atau sudah diketahui terlebih dahulu.[3]
D.
Rukun dan Syarat Jual Beli
1.
Rukun jual beli ada 3, yaitu:
a)
Akad (ijab qabul)
b)
Orang-orang yang berakad( penjual dan pembeli )
c)
Ma’kud alaih ( obyek akad )
Akad ialah ikatan kata
antara penjual dan pembeli, jaul beli belum dikatakan syah sebelum ijab dan
Kabul dilakukan, sebab ijab Kabul menunjukkan kerelaan ( keridhaan ), pada
dasrnya ijab kabulm dilakukan dengan lisan, tapi kalau tidak mungkin, seperti
bisu atau yang lainnya, maka boleh ijab Kabul dengan surat menyurat yang
mengandung arti ijab dan kabul.
Adanya kerelaan tidak
dapat dilihat sebab kerelaan berhubungan dengan hati, oleh karena itu kerelaan
dapat diketahui melalui tanda-tanda lahirnya, tanda yang jelas menunjukkan
kerelaan adalah ijab dan Kabul, Rasulullah SAW bersabda :
عن ابى هريرة رض عن
النبى ص م قال لايغترقن اثنا ن الاعن تراض
روه ا بوداودوالترمذى
“ Dari abu hurairah ra dari Nabi SAW bersabda :
janganlah dua orang yang jual beli berpisah sebelum saling meridhai “ ( riwayat
Abu Daud dan Tirmidzi )
قل النبى ص م انما البيع عن تراض (روا ه
ابومجاه)
“ Rasulullah SAW. Bersabda :
sesungguhnya jual beli hanya syah dengan
saling merelakan “ ( riwayat Ibn Hibban dan Ibn Majah )
Jual beli yang menjadi
kebiasaan, seperti jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan sehari-hari tidak
disyaratkan ijab dan Kabul, ini adalah pendapat jumhur.[4]
Menurut fatwah ulam
syafi’iyah bahwa jual beli barang-barang yang kecilpun harus ijab dan Kabul
tetapi menurt imam al-nawawi dan ulama muta’akhitin safiyah, berpendirian bahwa
boleh jual beli barang-barang yang kecil dengan tidak ijab dan Kabul seperti
membeli sebungkus rokok.
2.
Syarat-syarat benda yang menjadi obyek akad ialah:
a) Suci atau mungkin untuk di sucikan
b) Memberi manfaat menurut syara’
c) Jangan ditaklikan atau dikaitkan dengan hal-hal lain
d) Tidak dibatasi waktunya
e) Dapat diserhkan dengan cepat atau lambat
f) Milik sendiri
g) Diketahui barang yang diperjualbelikan
E.
Jual Beli yang Terlarang
Ada beberapa jenis jual beli yang dilarang Agama Di
antaranya, yaitu:
a)
Barang yang dihukumkan nakjis oleh agama, seperti anjing, babi, berhala,
bangkai, dan khamar.
b)
Jual beli sperma (mani) hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan
dengan betina, agar dapat memperoleh turunan, jual beli ini haram hukumnya. Rasulullah
saw. Bersabda:
عنابن
عمرراض قا ل نهى رسول الله ص م عن عسب الفحل (رواه البجا رى)
“Dari Ibnu Umar ra. Berkata;
Rasulullah saw. Telah melarang menjual mani binatang” (Riwayat Bukhari).
c)
Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya, jual beli
seperti ini dilarang, karena barangnya belum ada dan tidak tampak juga.
Rasulullah asw bersabda:
عن ابن عمررض انرسولله ص م نهى عن بيع حبل
الجلة (روا ه البخا رى ومسلم)
“Dari Ibnu Umar ra. Rasulullah
saw. Telah melarang penjualan sesuatu yang masih dalam kandungan induknya”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
d)
Jual beli dengan muhaqallah, haqalah mempunyai arti tanah, sawah dan
kebun, maksud muhaqallah di sini ialah menjual tanam-tanaman yang masih di ladangoi
atau di sawah, hal ini dilarang agama ada perasangkaan riba di dalamnya.
e)
Jual beli dengan mukhadarah, yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas
untuk dipanen, seperti menjual rambutan yang masih hijau, mangga yang masih kecil-kecil.
Hal ini dilarang karena barang tersebut masih samar, dalam artian mungkin saja
buah tersebut jatuh tertiup angin kencang atau yang lainnya sebelum diambil
oleh pembelinya.
f)
Jual beli dengan muammasah, yaitu jual beli secara sentuh menyentuh, misalkan
seseorang menyentuh sehelai kain dengan tangannya diwaktu malam atau siang
hari, maka orang yang menyentuh berarti telah membeli kain tersebut. Hal ini
dilarang karena mengandung tipuan dan kemungkinan akan menimbulkan kerugian
bagi salah satu pihak. [5]
F.
Jual Beli yang DIhalalkan
Jual
beli yang dihalalkan oleh syara’ (Agama Islam) ada 3 ketentuan bahwa barang
yang diperjual belikan diantaranya :
1.
Dapat
di lihat oleh pembeli
2.
Dapat
di ketahui keadaan dan sifatnya
3.
Suci
dan bermanfaat
Maksud adanya ketantuan-ketentuan
tersebut agar tidak ada kericuhan dan dalam ada (tidak terbawa) harus diketahui
keadaan dan sifatnya. Barang belum tampak dan tidak diketahui keadaannya, tidak
boleh dijualbelikan. Hadis telah menyebutkan bahwa Nabi saw, melarang jual beli
barang yang tidak di ketahui keadaannya.
Barang yang
diperjualbelikan harus suci dan bermanfaat untuk manusia. Tidak boleh haram
berjualbelikan barang-barang yang nakjis atau tidak bermanfaat, seperti : Arak,
bangkai, babi, anjing, berhala, dan lain-lain.
Nabi saw Bersabda:
الله تعا لى حرم بيع الخمروالميتة والخنز يرولاصنام ان
Nabi bersabda : “ Allah taala melarang jual beli arak, bangkai,
babi, anjing dan berhala. (Bukhari dan Muslim).
Adapun barang yang boleh dijualbelikan ada 5 syarat, yaitu :
1.
Suci
2.
Bermanfaat
3.
Milik
penjual (disukainya)
4.
Bias
diserahkan
5.
Diketahui
keadaannya
Barang yang
nakjis atau tidak bermanfaat tidak boleh dijualbelikan (seperti keterangan di
atas). Jual beli harus milik sendiri atau yang dikuasakan kepadanya. Jadi
miliknya sendiri atau milik orang lain yang telah dikuasakan, dan untuk dirinya
sendiri atau untuk orang lain yang telah menguasakannya.
Kalu menjual
milik orang lain atau membeli untk orang laintanpa ada penguasaan, maka jual
beli itu tidak sah. Sesuai dengan sabda Nabi saw.
“Tidak
ada talak (cerai) kecuali apa yang dimilikinya, tidak membebaskan (budak)
kecuali miliknya, tidak menjual kecuali
miliknya, dan tidak ada pemenuhan nazar kecuali dengan miliknya.” (HR.
At-Tirmidzi dan Abu Daud)
G.
Jual Beli yang Dilarang Tapi DIperbolehkan
Ada beberapa macam jual beli yang dilarang oleh
agama tetapi sah hukumnya, Cuma orang yang melakukannya mendapat dosa, jual
beli beli tersebut diantara lain:
1.
Menawar barang yang sedang ditawar orang lain, seperti seseorang berkata:
“ tolaklah harga tawaranya itu, nanti aku yang membeli dengan harga yang lebih
mahal”. Hal ini di larang karena akan menyakiti oramg lain, Rasulullah saw.
Bersabda:
لايسوم
الر جل على سوم ٲخيه (روا ه البخا رى ومسلم)
“Tidak boleh seseorang menawar
di atas tawaran saudaranya” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
2.
Jual beli dengan Najasyi, ialah seseorang menambah atau melebihi harga
temannya, dengan maksud memancing-mancing orang, agar orang itu mau membeli
barang kawannya, hal ini dilarang agama. Rasullah saw. Bersabda:
نهى
رسولالله ص م عن النجش (روا ه البخا رى ومسلم)
“Rasulullah saw. Telah melarang melakukan jual beli dengan
najasyi” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
3.
Menjual di atas penjualan orang lain, umpamanya seseorang berkata: “
kembalikan saja barang itu kepada penjualnya, nanti barangku saja kau beli
dengan harga yang lebih murah dari itu. Rasulullah saw. Bersabda:
قل
رسول لله ص م ولايبيع الرجل على بيع ٲخيه (روا ه البخا رى ومسلم)
“rasulullah saw. Bersabda;
seorang tidak boleh menjual atas penjulan orang lain” (Riwayat Bukhari dan
Muslim)
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jual beli adalah suatu perjanjian yang di lakukan oleh kedua belah
pihak dengancara suka rela sehingga keduanya dapat saling menguntungkan maka
akan terjadilah penukaran hak milik secara tetap dengan jalan yang di benarkan
oleh syara’. Yang dimaksut sesuai dengan ketetapan hokum adalah memenuhi
persyaratan-persyaratan, rukun-rukundalam jual beli, maka jika syara’ dan
rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan ketentuan syara’.
B. Saran
Untuk saudara-saudari umat muslim agar melaksanakan jual beli sesui
dengan berdasarkan hokum, rukun dan syarat yang telah di tentukan oleh ALLAH
SWT agar terhindar dari riba dan mendapat keridoan ALLAH SWT.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Jaziri.2002.Fiqih ‘Ala
Madzabib Al-Arba’ah.Jakarta,Erlangga
Al-Khalani.1989.Subul Al-Salam.Jakarta,PT.Sinar Buku
Drs.Muslihun.2005.Fiqih Ekonomi.Jakarta,PT.Mahasatya
Rifa’I Moh, Aziz Abd,1989 fiqih, semarang, CV. Wicaksana
Ryasid
Sulaiman .1985.Fiqih Islam.Jakarta,Erlangga
[1]
Drs. Muslihun Muslim, M. Ag, fiqih ekonomi, mataram, LKIM IAIN Mataram, 2005,
hal. 174.
[2]
Drs. Haji moh. Rifa’I, Drs. Rs. Abd Aziz, fiqih, semarang, CV. Wicaksana 1984, hal. 5.
[3]
Al-jaziri,Fiqih ‘Ala Madzabib al-arba’ah, hlm.151.
[4]
Al- kahlani, subul al-salam, halm. 4.
[5]
Sulaiman Rasyid,fiqih islam,1985 hlm. 178-179.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar