Selasa, 10 September 2013

SYI'AH

TUGAS ILMU KALAM
KAUM  SYI’AH






Agus Hendra Gunawan                      15.1.11.4.158
KELAS III E

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
MATARAM
2012


SYI’AH

A.    Pengertian dan asal-usul kemunculan syi’ah
Syi’ah dilihat dari segi bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagai kaum muslim yang dalam bidangsepiritual dan keagamaannya selalu kepada keturunan Nabi Muhammad SAW.atau orang yang disebut sebagai ahlal-bait.poin penting dalam doktrin syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama itu bersumber dari ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan al-bait atau para pengikutnya.
Menurut  thobathbai, istilah sy’ah untuk pertama kalinya ditujukan pada para pengikut Ali (syi’ah Ali),pemimpin pertama ahl al-bait pada masa Nabi Muhammad SAW.para pengikut ali yang disebut syi’ah itu diantaranya adalah Abu Dzar Al-Ghiffari,Miqad bin Al-Aswad dan Amar binYasir.
Pengertian bahasa dan terminology diatas hanya merupakan dasar yang membedakan syi’ah dengan kelompok islam yang lain.didalamnya belum ada penjelasan yang memadai mengenai syi’ah berkut doktrin-doktrinya. Meskipun demikian pengertian diatas merupakan titik tolak penting bagi mazhab syi’ah dalam mengembangkan dan membangun dokterin-dokterinya meliputi segala aspek kehidupan seperti imamah,taqiyah,mut’ah dan sebagainya.
      Mengenai munculnya syi’ah dalam sejarah, terdapatperbedaan pendapat dikalangan para ahli.menurut Abu Zahrah ,syi’ah mulai muncul pada akhir pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.adapun menurut watt,syi’ah baru benar- benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu’awiyah yang dikenal dengan perang siffin. Dalam peperangan in,sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Mu’awiyah,pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua,satu kelompokmendukung sikap Ali-kelak disebut syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali, kelak disebut khawarij.
      Kalangan syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khalifa) Nabi SAW.mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar,Umar bin Khathab dan Usaman bin affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thaliblah yang berhak menggantikan Nabi.kepemimpinan Ali dalam pandangan syi’ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW. Diceritakan bahwa Nabi pada saat itu mengatakan bahwa orang yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya.selain itu, sepanjang kenabian Muhammad,Ali merupan orang yang menunjukan perjuangan dan pengabdian yang luar biasa besar.
      Bukti utama tentang sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. diceritakan bahwa ketika kembali dari haji terakhir dalam perjalanan dari mekkah ke madinah, disuatu padang pasir  yang bernama Ghadir Khumm, Nabi memilih Ali sebagai penggantinya dihadapan massa yang penuh sesak menyertai beliu.pada peristiwa itu Nabi tidak hanya menetapkan Ali sebagai pemimpin umum umat (walyat-I’ammali), tetapi juga menjadikan Ali sebagaimana Nabi sendiri, sebagai pelindung (wali) mereka. Namun, realitas berbicara lain.
      Berlawanan dengan harapan mereka, justru ketika Nabi wafat dan jasadnya belum dikuburkan, sedangankan anggota keluarganya dan beberapa orang sahabat sibuk dengan persiapan dan upacara pemakamannya, teman dan para pengikut Ali mendengar kabar adanya kelompok lain yang telahpergi ke masjid tempat umat berkumpul menghadapi hilangnya pemimpin yang tiba-tiba. Kelompok ini, yang kemudian menjadi mayoritas, bertindak lebih jauh, dan sangan tergesa-gesa memilih pimpinan kaum muslimin dengan maksud menjaga kesejah teraan umat dan memecahkan masalah mereka saat itu. Mereka melakukan hal itu tanpa berunding dengan ahlul bait, keluarga, atau pun para sahabat yang sedang sibuk dengan upacara pemakaman, dan sedikitpun tidak memberitahukan mereka. Dengan demikian, kawan-kawan ali dihadapkan kepada suatu keadaan yang sudah tak dapat berubah lagi.
      Berdasarkan realitas itu, muncul sikap dikalangan sebagia kaum muslimin yang menentang kekhalifahan dan menolak kaum mayoritas dalam masalah kepercayaan-kepercayaan tertentu. Mereka tetap berpendapat bahwa pengganti nabi dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali. Mereka berkeyakinan bahwa semua persoaalan kerohanian dan agama harus merujuk kepadanya serta mengajak masyarakat untuk mengikutinya. Iilah kemudian yang di sebut dengan syi’ah. Namun, lebih dari itu, seperti yang di katakana Naser, sebab utama munculnya syi’ah terlaetak pada kenyataan bahwa kemungkinan ini ada wahyu islam sendiri, sehingga mesti di wujudkan.
      Perbedaan pendapat dikalangan para ahli mengenai kalanga syi’ah merupaka sesuatu yang wajar. Para ahli berpegag teguh pada fakta sejarah ‘perpecahan’ pada islam yang memang mulai mencolok pada mass pemeritahan Usman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnyasetelah perang siffin. Adapun kaum syi’ah, berdasarkan hadis-hadis yang mereka terima dari ahlul bait, berpendapat bahwa perpecahan itu sudah mulai ketika Nabi SAW wafat dan kekhalifahan jatuh ketangan Abu Bakar. Segera setelah itu terbentuklah syi’ah. Bagi mereka padamasa kepemimpinan Khulafa Ur-Rasyidin sekalipun, kelompok syi’ah sudah ada. Mereka bergerak dibawah permukaan untuk mengajarkan dan menyebarkan doktrin-doktrin syi’ah kepada masyarakat. Tampaknya syi’ah sebagai salah satu faksi politik islam yang bergerak secara terang-terangan, memang baru muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, sedangkan syi’ah sebagai doktrin yang di ajarkan secara diam-diam oleh ahlul bait segera muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
      Syi’ah mendapatkan pengikut yang besar terutama pada masa dinasti Umaiyyah. Hal ini menurut abu Zahrah merupakan akibat dari perlakuan kasar dan kejam dinasti ini terhadap Ahlul Bait diantara bentuk kekerasan itu adalah Yazid bin Umaiyyah pernah memerintahkan pasukannya yang di pimpin oleh Ibn Yazid untuk memenggal kepala Husein bin Ali di karbala. Diceritakan bahwa setelah kepala Husein di penggal, kepala Husein dibawa ke hadapan Yazid dengan tonkatnya Yazid memukul cucu Nabi Muhammad SAW, yag pada waktu kecilnya sering di cium Nabi Muhammad SAW. Kekejaman seperti ini menyebabkan kaum muslim tertarik dan mengikuti mazhab Syi’ah atau paling tidak menaruh simpati yag dalam terhadap tragedy yang menimpa  Ahlul Bait.
      Dalam perkembangannya, elain memperjuangkan hak ke khalifahan Ahlul Bait di hadapan dinasti Umaiyyah dan dinasti Abbasiyah, syi’ah juga mengembangkan dotrin-doktrinnya sendiri. Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai lima rukun iman, yakni tauhid (kepercayaan terhadap keesaan ALLAH SWT), nubuwwah (kepercayaan kepada kenabian), ma’ad (kepercayaan adanya hidupdi akhirat), imamah (kepercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan hak Ahlul Bait), dan adl (keadilan ilahi). Dalam ensklopedia islam Indonesia ditulis bahwa perbedaan antara sunni dan syi’ah terletak pada doktrin imamah. Meskipun mempunyai landasan keimanan yang sama, syi’ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin imamah. Diantara sekte-sekte syi’ah itu adalah Itsna Asya’ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah, dan Ghullat.
B.     SYI’AH ITSNA ASY’ARIYAH (SYI’AH DUA BELAS/SYI’AH IMAMIYAH)
1.      Asal-usul Penyebutan Imamiyah dan Syi’ah Itsna Asy’ariyah
            Dinamakan syi’ah imamiyah kerena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalamarti pemimpin religio politik. Yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya kemuliyaan ahlaknya, tetapi juga karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Ide tentang hak Ali dan keturunannya untuk menduduki jabatan khalifah telah ada sejak Nabi wafat, yaitu dalam perbincangan politik di Saqifah Bani Sa’idah.
            Syi’ah Itsna Asy’ariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad SAW  seperti yang di tunjukan nas. Adapun penerima waris setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husein bin Ali sebagaimana yang disepakati. Setelah Husein  adalah Ali Zaenal Abidin, kemudoan secara berturut-turut yaitu Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam ke dua belas. Demikianlah, karena berbaiat dibawah imamah dua belas imam, mereka dikenal dengan sebutan Syi’ah Itsna Asy’araiyah.
            Nama dua belas ini mengandung pesan penting dalam tinjauan sejarah, yaitu golongan ini terbentuk setelah lahirnya kedua belas imam yaitu kira-kira pada tahun 260 H/878 M. pengikut sekte ini menganggap imam kedua belas, Muhammad Al-Mahdi, dinyatakan gaibah. Muhammad Al-Mahdi bersembunyi di runag bawah tanah rumah ayahnya di Samarra dan tidak kembali. Itulah sebabnya, kembalinya imam Al-Mahdi ini selalu di tunggu-tunggu pengikut Syi’ah Itsna Asy’ariyah. Cirri khas kehadiranya adalah sebagai ratu adil yang akan turun di akhir zaman. Oleh sebab itu Muhammad Al-Mahdi dijuluki sebagai Imam Mahdi Al-Muntazhar  (yang ditunggu).
2.      Doktrin-doktrin Syi’ah Itsna Asy’ariyah
            Didalam sekte syi’ah itsna asy’ariyah dikenal dengan konsep Usulluddin. Konsep ini menjadi akar atau fondasi paragmatisme agama. Konsep Usuluddin mempunyai lima akar.
a.       Tauhid
      ALLAH SWT adalah Esa baik esensi maupun ekstensi-Nya. Keesaan ALLAH SWT adalah mutlak. Ia bereksistensi dengan Sendiri-Nya. ALLAH SWT adalah qadim. Maksudnya, ALLAH SWT bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu diciptakan ileh ALLAH SWT. ALLAH SWT Maha tahu. Maha Mendengar. Selalu hidup. Mengerti semua bahasa. Selalu benar dan bebas berkehendak. Keesaan ALLAH SWT tidak tersusun. ALLAH SWT tidak membutuhkan sesuatu. Ia berdiri sendiri. Tidak diatasi oleh ciptaan-Nya. ALLAH SWT tidak bias dilihat dengan Mata biasa.
b.      Keadilan
      ALLAH SWT menciptakan kebaikan didalam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah menghiasi ciptaan-Nya dengan ketidak adilan. Karena ketidak adilan dan kezaliman terhadap yang lain merupakan tanda kebodohan dan keidak mampuan dan sifat ini jauh dari keabsolutan dan kehendak ALLAH SWT.
c.       Nubuwwah
      Setiap mahluk sekalipun telah diberi insting, masihmembutuhkan petunjuk, baik petunjuk dari ALLAH SWT maupun dari manusia. Rasul merupakan petunjuk hakiki utusan ALLAH SWT yang secara transenden di utus untuk memberikan acuan dalam membedakan anatara yang baik dan yang buruk didalamsemesta. Dalam keyakinan syi’ah itsna asy’ariyah , ALLAH SWT telah mengutus 124.000 Rasul untuk member petunjuk kepada manusia.
      Syi’ah Itsna Asy’ariyah percaya mutlak dengan ajaran tauhid dengan kerasulan sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW dan tidak ada nabi atau rasul setelah Muhammad SAW. Mereka percaya adanya kiamat. Kemurnian dan keaslian Al-Qur’an jauh dari tahrif, perubahan, atau tambahan.
d.      Ma’ad
      Ma’ad adalah hari akhir (kiamat) untuk menghadap pengadailan ALLAH di hari akhirrat. Setiap muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lurus dalam pengadilan ALLAH. Mati adalah periode transit dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.
e.       Imamah
      Imamah adalah institusi yang di inagurasikan ALLAH SWT untuk memberikan petunjuk manusia yang di pilih dari keturunan Ibrahim dan didelegasikan kepada keturunan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
      Selanjutnya dalam sisi yang bersifat mahdah, Syi’ah Itsna Asy’ariyah berpikir kepada delapan cabangagama yang di sebut dengan Furu Ad-Din. Delapan cabang itu terdiri atas Salat, Puasa, Haji, Zakat, Khumus atau pajak sebesar seperlima dari penghasilan, Jihad, Al-Amr bi Al-Ma’ruf, dan An-Nahyu an-Al-Munkar.
C.    SYI’AH SAB’IYAH (SYI’AH TUJUH)
1.      Asal-usul Penyebutan Syi’ah Sab’iyah
      Istilah Syi’ah Sab’aiyah dianalogikan dengan syi’ah Itsna Asy’ariyah. Istilah ini memberikan pengertian bahwa sekte Syi’ah Sab’iyah hanya mengaku tujuh imam, yaitu Ali, Hasan, Husein,Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Ismail bi Ja’far. Karena di nisbatkan kepada imam yang ke tujuh, Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq, Syi’ah Sab’iyah di sebut juga Syi’ah Ismailiyah.
      Berbeda dengan Syi’ah Itsna Asy’ariyah dia menbatalkan Ismail bin Ja’far sebagai imam ke tujuh karena disamping memiliki kebiasaan yang tidak terpuji karena juga dia wafat (143 H/760 M) mendahului ayahnya Ja’far (w. 765). Sebagai penggantinya adalah Musa Al-Kadzim, adik Islamil. Syi’ah Sab’iyah menolak pembatalan tersebut, berdasarkan system pengangkatan imam dalam Syi’ah  dan menganggap ismail sebagai imam ke tuajuh dan sepeninggalnya diganti oleh putranya yang tertua, Muhammad bin Ismail.
2.      Doktrin-doktrin Imamah dalam Pandangan Syi’ahSab’iyah
      Para pengikut Syi’ah sab’iya percaya bahwa islam dibangun oleh tujuh pilar seperti yang di jelaskan Al-Qadhi An-Nu’man dalam Da’aim Al-Aslam. Tujuh pilar tersebut adalah iman, taharah, salat, zakat, saum, haji, dan jihat. Kemudian Qadhi An-Nu’man (974 M) merincikannya sebagai berikut.
      Iman kepada ALLAH, tiada tuhan selain ALLAH dan Nabi Muhammad utusan ALLAH, iman kepada syurga, iman kepada neraka, iman kepada hari kebangkitan, iman kepada hari pengadilan, iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada imam, percaya, mengetahui, dan membenarkan imam zaman.
      Dalam pandangan kelompok Syi’ah Sab’iyah, keimanan hanya bias di terima bila sesuai dengan keyakinan mereka, yakni melalui kesetiaan kepada imam zaman. Imam adalah seseorang yang menuntun umatnya kepada pengetahuan. Dengan pengetahuan tersebut, seorang muslim akan menjadi seorang mukmin yang sebenar-benarnya. Untuk itu, mereka ber argument bahwa manusia akan memasuki kehidupan spiritual, kehidupan format materil sebagai individu dan kehidupan social yang semuanya memerlukan aturan. Manisia tidak dapat melalui kehidupan itu, kecuali dengan bimbingan, yang meliputi kepemimpinan dan pembaharuan, pengetahuan, aturan-aturan, dan bimbingan pemerintah yang berdasarkan islam. Pribadi yang dapat melakukan bimbingan seperti itu adalah pribadi yang ditunjukan oleh ALLAH SWT dan Rasul-Nya dan Rasul pun menunjuknya atas perintah ALLAH SWT. Imam adalah penunjuk melalui wasiat.
      Syarat-syarat seorang imam dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah adalah sebagai berikut.
a.       Imam harus berasal dariketurunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah kemudian yang di kenal dengan Ahlul Bait.
b.      Berbeda dengan aliran Kaisaniyah, pengikut Muktar Ats-Tsaqati, mempropagandakan bahwa keimanan harus dari keturunan Ali melalui melalui pernikahannya dengan seorang wanita dari Bani Hanifah dan mempunyai anak yang bernama Muhammad bin Al-Hanifah.
c.       Imam harus berdasarkan penunjukan atau nas. Syi’ah Sab’iyah meyakini bahwa setelah Nabi wafat, Ali menjadi imam berdasarkan penunjukan khusus yang dilakukan Nabi sebelum beliau wafat. Suksesi keimanan menurut doktrin dan tradisi syi’ah harus berdasarkan nas oleh imam terdahulu.
d.      Keimaman jatuh pada anak tertua. Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam memperoleh keimaman dengan jalan wiratsah. Jadi, ayahnya yang menjadi imam menunjuk anaknya yang paling tua.
e.       Imam harus maksum. Sebagaimana sekte Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam harus terjaga darisalahsatu dosa. Bahkan lebih dari itu, Syi’ah Sab’iya berpendapat bahwasungguhpun imam berbuat salah, perbuatannya itu tidak salah. Keharusan maksum bagi imam dapat ditelusuri dengan pendekatan sejarah. Pada sejarah Iran pra-islam terdapat ajaran yang menyatakan bahwa raja itu merupakan keturunan tuhan, atau seorang raja adalah pengusa yang mendapat tetesan ilahi. Oleh sebab itu, seorang raja harus maksum.
f.       Imam harus di jabat oleh seorang yang paling baik berbeda degan Zaidah, Syi’ah Sab’iyah dan Syi’ah dua belas tidak membolehkan anya imam mafdul. Dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah, perbuatan dan ucapan imam tidak boleh bertentangan dengan syari’at. Sifat dan kekuasaan seseorang imam hamper sama dengan Nabi. Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa Nabi mendapatkan wahyau, sedangkan imam tidak mendapatkannya.
      Di samping syarat-syarat diatas, Syi’ah Sab’iyah berpendapat bahwa seorang imam harus memiliki pengetahuan dan juga harus mempunyai pengetahuan walayah. Pengetahuan disini berarti ilmu lahir maupun batin. Dengan ilmu tersebut, seorang imam mengetahui hal-hal yang tidak di ketahui orang biasa.
      Kedua, seorang imam harus mempunyai sifat walayah, yaitu kemampuan batin untuk menuntun manusia kedalam rahasia-rahasia ALLAH SWT.
3.      Ajaran Syi’ah Sab’iya Lainnya
      Ajaran syi’ah lainnya pada dasarnya sama seperti ajaran sekte-sekte Syi’ah Lainnya. Perbedaannya terletak pada konsep kemaksuman imam, adanya aspek batin pada setiap yang lahir, dan penolakannya terhadap Al-Mahdi Al-Muntazar. Bila dibandingkan denagan sekte Syi’ah lainnya, Sabiya sangat ekstrim dalam dalam kemaksuman imam, walaupun kelihatan melakukan kesalahan dan menyimpang dari syari’at, ia tidak menyimpang karena mempunyai pengetahuan yang tidak dimiliki manusia biasa.
      Adasatu sekte dalam Sab’iyah yang berpendapat bahwa ALLAH mengambil tempat didalam diri imam. Oleh karena itu imam harus di sembah. Salah seorang dari dinasti Fatimiyah, Al-Hakim bin Amirillah, berkeyakinan bahwa didalam dirinya terdapat ALLAH sehingga ia memaksa rakyat untuk menyembahnya.
      Menurut Sab’iyah, Al-Qur’an memiliki makna batin selain makna lahir. Dikatakan bahwa segi-segi lahir atau tersurat  dari syari’at itu diperuntuhkan bagi orange awamyang kecerdasannya terbatas dan tidak memiliki kesempurnaan rohani. Bagi orang-orang tertentu, mungkin saja terjadi perubahan dan peralihan dan bahkan penolakan terhadap pelaksanaan syari’at tersebut karena mendasarkan pada yang batin tadi. Yang dimaksud dengan orang-orang tertentu ialah para imam yang memiliki ilmu lahir dan batin.
D.    SYI’AH ZAIDIYAH
1.      Asal-usul Penamaan Zaidiyah
            Di sebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai imam ke lima, putra imam ke empat, Ali Zainal Abidin. Kelompok ini berbeda dengan sekte Syi’ah lain yang mengakui MuhammadAl-Baqir, putra Zainal Abidin yang lain, sebagai imam ke lima. Dari nama Zaid bin Ali inilah nama Zaidiyah diambil. Syi’ah Zaidiyah merupakan sekte Syi’ah yang moderat. Abu Zahrah menyatakan bahwa kelompok ini mrupakan sekte yang paling dekat dengan Sunni.
2.      Doktrin Imamah Menurut Syi’ah Zaidiyah
            Imamah, sebagaimana telah di sebutkan, merupakan doktrin fundamental dalam Syi’ah semacam umum. Berbeda dengan doktrin imamah yang di kembangkan syi’ah lain, Syi’ah Zaidiyah mengembangkan doktrin imamah yang tipikal. Kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi SAW. Telah di tentukan nama dan orangnya oleh Nabi, tapi hanya di tentukan sifat-sifatnya saja. Ini jelas berbeda dengan sekte Syi’ah lain, yang percaya bahwa Nabi SAW. Telah menunjuk Ali sebagai orang yang pantas menjabat sebagai imam setelah Nabi wafat karena Ali memiliki sifat-sifat  yang tidak dimiliki oleh orang lain, seperti keturunan Bani Hasyim, wara (saleh, menjauhkan diridari segala dosa), bertakwa, baik, dan membaur dengan rakyat untuk mengajak mereka hingga mengakuinya sebagai imam.
            Selanjutnya menurut Ziydiyah, seorang imam paling tidak harus memiliki cirri-ciri sebagai berikut. Pertama, ia merupakan keturunan Ahlul Bait, baik melalui garis keturunan Hasan atau pun Husein. Hal ini mengimplikasikan penolakan mereka atas system pewarisan dan nas kepemimpinan. Kedua, memiliki kemampuan mengangkat senjata, sebagai uaya mempertahankan diri atau menyerang atas dasar ini mereka menolak mahdiisme yang merupakan salah satu cirri sekte syi’ah lainnya, baik yang gaib maupun yang di bawah umur. Bagi mereka, pemimpin yang menegakkan kbenaran dan keadilan adalah Mahdi. Ketiga, memiliki kecendrungan intelektualisme yang dapat dibuktikan melalui ide dan karya dalam bidang keagamaan. Mereka menolak kemaksuman imam, bahkan mengembangkan doktrin iamam Al-Mahfdul. Artinya, seseorang dapat di pilihmenjadi imam meskipun ia bukan yang terbaik (mafdul) dan pada saat yang sama ada yang afdal.
            Dengan diktrin imamah seperti itu, tidak heran jika Syi’ah Zaidiya sering mengalami kerisis dalam ke imaman. Hal ini disebabkan karena terbentuknya kesempatan bagi setiap keturunan Ahlul Bait untuk menobatkan dirinya sebagai imam. Ini berbeda dengan Syi’ah Itsna Asy’ariyah yang hanya mengakui keturunan Husein sebagi imam. Dalam sejarahnya, krisis keimaman dalam Syi’ah Zaidiyah ini di sebabkan oleh dua hal. Pertama, ada beberapa pemimpin yang memproklamasikan diri sebagai imam. Kedua, tidak seorangpun yang memproklamirkan diri atau pantas menjadi imam. Dalam menghadapi krisis krisis ini, Zaidiyah mengembangkan mekanisme pemecahannya, diantaranya membagi tugas imam kepada dua individu, dalam bidang politik dan dalam bidang ilmu sastra keagamaan. Menurut mereka imam bukan saja memiliki kekuatan rohani yang di perlukan bagi seorang pemimpin keagamaan, tetapi juga bersedia melakukan perlawanan demi cita-cita suci sehingga dihormati oleh umatnya. Selain menolak berbagai dongeng tentang kekuatan adikodrati para imam, mereka juga mengingkari sifat keilahian para imam. Imam bagi mereka adalah pemimpin dan guru bagi kaum muslim, aktif di tegah kehidupan, dan berjuang terang-terangan demi cita-citanya. Dengan demikian imam dapat berfungsi sebagai pemimpin politik dan keagamaan yang secara kongkrit berjuang demi umat, daripada sebagai tokoh adikodrati yang suci tanpa dosa.
3.      Doktrin-doktrin Syi’ah Zaidiyah Lainnya
            Bertolak dari doktrin tentang Al-Imamah Al-Mafdul, Syi’ah Zaidiyahberpendapat bahwa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sah dari sudut pandang islam. Mereka tidak merampas kekuasaan dari tangan Ali bin Abi Thalib. Dalam pandangan mereka, jika ahlul wa al-aqd telah memilih seorang imam dari kalangan kaum muslim, meskipun itu tidak memenuhi sifat-sifat keimanan yang di tetapkan oleh Zaidiyah dan telah di baiat oleh mereka, keimanannya menjadi sah dan rakya wajib berbaiaat kepadanya. Selain itu, mereka juga tidak mengafirkan seorang pun sahabat. Mengenai hal ini, Zaid sebagaimana dikutip Abu Zahrah mengatakan:
Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling utama. Kekhalifahannya di serahkan kepada Abu Bakar karena mempertimbangkan kemaslahatan dan kaidah agama yang mereka pelihara, yaitu untuk meredam timbulnya fitnah dan memenangkan rakyat. Era peperangan yang terjadi pada masa kenabian barusaja berlalu. Pedang Amir Al-Mu’minin Ali belum lagi kering dai darah orang-orang kafir. Demikian kedengkian suku-suku tertentu untuk menuntut balas belumlah surut. Sedikitpun hati kita tidak pantas untuk cenderung kesitu, jangan adalagi leher terputus karena masalah itu. Inilah yang di namakan kemaslahatan bagi orang-orang yang mengenal dengan kelemah lembutan dan kasih saying, juga bagi orang yang lebih tua dan lebih dahulu memeluk islam, serta yang dekat dengan Rasulullah.
            Perinsip inilah menurut Abu Zahrah, yang menyebabkan banyakorang keluar dari syi’ah Zaidiyah. Salah satu implikasinya yati berkurangnya dukungan terhadap zaid ketika ia berperang melawan pasukah Hisyam bin Abdul Malik. Hal ini wajar mengingat salah satu doktrinSyi’ah yang cukup mendasar adalah menolak ke khalifahan Abu Bakkar dan Umar dan menuduh mereka sebagai perampas hak kekhalifahan dari yagan Ali.
            Penganut Syi’ah Zaidiyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal di dalam neraka jika ia belum bertaubat dengan pertaubatan yang sesungguhnya. Meskipundemikian, di dalam bidang ibadah, zaidiah tetap cenderung menunjukan symbol dan amalan Syi’ah pada umumnya. Dalam azan misalnya, mereka member selingan ungkapan hayya ‘ala khair al-amal, takbir sebanyak lima kali dalam shalat jenazah, nenolak sahnya mengusap kaus kaki, menolak imam yang tidak saleh dan menolak binatang sembelihan bukan muslim.
E.     SYI’AH GHULAT
1.      Asal-usul Penamaan Syi’ah Ghulat
            Istilah Ghulat berasal dari kata ghala-yaghlu-ghuluw artinya bertambah dan naik, Ghala bi addin artinya memperkuat dan menjadi ekstrim sehinnga melampaui batas. Syi’ah Ghulat adalah kelompok yang mendukung ali yang bersikap belebih-lebihan atau ekstrim. Lebih jauh Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syi’ah Ghulat adalah kelompok yang menepatkan ali pada derajat ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada derajat kenabian, bahkan lebih tinggi dari pada Nabi Muhammad SAW.
            Ghuluw yang di berikan kepada kelompok ini berkaitan dengan pendapatnya yang janggal, yakni ada beberapa orang yang secara khusus di anggap tuhan dan ada juaga beberapa orang yang di anggap Rasul setelah Nabi Muhammad. Selain itu mereka mengembangkan diktrin-doktrin ekstrim lainnya seperti tanasukh, hulul, tasbih, ibhah.
            Mengenai jumlah sekte Syi’ah Ghulat, para mutakalimi8n berbeda pendapat. Syahratani membagi sekte Ghulat menjadi 11 sekte, sedangkan Al-Ghurabimembaginya menjadi 15 sekte. Sekte-sekte yang terkenal antara lain: Sabahiyah, Kamaliyah, Albaiyah, Mughriyah, Mansuriyah, Khattabiyah, Kayaliyah, Hisamiyah, Nu,miyah, Yunusiyah dan Nasyisiyah wa Ishaqiyah.
            Nama-nama sekte tersebutmenggunakan nama-nama tokoh yang memimpinnya. Sekte-sekte ini awalnya hanya satu, yakni faham yang dibawa oleh Abdullah bin Saba’ yang mengajarkan bahwa Ali adalah tuhan. Kemudian karena adanya perbedaan perinsip dan ajaran Syi’ah Ghulat terpecah menjadi beberapa sekte. Meskipu demikian seluruh sekte ini pada perinsipnya menyepakati tentang Hlul dan Tamasuk. Faham ini di pengaruhi oleh system agama Babilonia kuno yang ada di irak, seperti Zoroaster, Yahudi, Manikam, Mazdakisme.
2.      Doktrin-doktrin Syi’ah Ghulat
            Mnurut Syahrastani, ada empat doktrin yang membuat mereka ekstrim yaitu Tanasuhk, Bada’, Raj’ah, dan Tasbih. Moojan Momen menambahkannya denga hulul dan ghyba. Tanasuhk adalah keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain. Faham ini diambil dari falsafah hindu. Penganut agama hindu berkeyakinan bahwa roh disiksa dengan cara di pindah ketubuhhewan yang lebih rendah dan diberi pahala dengan cara berpindah dari satu kehidupan kekehidupan yang lebih tinggi. Syi’ah Ghulat menerapkan faham ini adalah konsep imamahnya, sehingga ada yang menyatakan seperti Abdullah bin Muawiya bin Abdullah bin Ja’far bahwa roh adalah berpindah kepada adam seterusnya kepada imam-imam secara turun trmurun.
            Bada’ adalah keyakinan bahwa ALLAH mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmunya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memrintahkan yang sebaliknya. Syarastani menjelaskan lebih lanjut bahwa Bada’ dalam pandangan Syi’ah Ghulat, mempunyai beberapa arti menampakan sesuatu yang bertentangan dengan yang di ketahui ALLAH. Bila berkaitan dengan kehendak artinya memperlihatkan yang benar dan menyalahi yang di kehendaki dan hokum yang di terapkan-Nya. Bila berkaitan dengan perintah. Arinya memrintahkan hal lain yang bertentangan dengan perintah sebelumya. Faham ini dipilih oleh Mikhtar ketika mendakwahkan dirinya menetahui hal-hal yang akan terjadi, baik melalui wahyu yang diturunkan kepadanya atau melalui surat dari imam. Jika ia menjadikan kepada pengikutnya akan terjadi sesuatu, lalu hal itu benar-benar terjadi seperti yang di ucapkannya, maka itu di justifikasikan sebagai bukti kebenaran ucapannya. Namun jika terjadi sebaliknya, ia mengetakan tuhan menghendaki Bada’.
            Raj’ah ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayayi bahwa Imam Mahdi Al-Muntazahar akan dating ke bumi. Faham Raj’ah dan Mahdiyah ini merupakan ajaran seluruh Syi’ah. Namun  mereka berbeda pendapat tentang siapa yang akan kembali. Mereka menyatakan bahwa yang akan kembali itu adalah Ali, sedangkan sebagian lainnya menyatakan Ja’far Ash-Shadiq, Muhammad bin Al-Hanafiyah, bahkan ada yang mengatakan muhktar Ats-Tsaqafi.
            Tasbih artinya menyeruoa, mempersamakan,. Syi’ah Ghulat menyerupakan salah seorang imam mereka dengan tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan mahluk. Tasbih ini diambil dari faham hululiah dan tanasuhk dengan khalik.
            Hulul artinya Tuhan berada pada setiap tempat, berbicara dengan semua bahasa, dan ada pada setiap individu manusia. Hulul bagi syi’ah ghulat berarti tuhan menjelma dalam diri imam sehingga imam harus di sembah.

            Ghayba artinya menghilangnya imam mahdi . ghayba merupakan kepercayaan Syi’ah bahwa imam Mahdi ituada di dalam negeri ini dan tidak dapat di lihat dengan mata biasa. Konsep Ghayba pertama kali diperkenalkan oleh Mukhtar Ats-Tsaqafi tahun 66 H/686 M di kufa ketika mempropagandakan Muhammad nin Hanafiyah sebagai Imam Mahdi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar