TUGAS ILMU KALAM
KAUM SYI’AH
Agus Hendra Gunawan 15.1.11.4.158
KELAS III E
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
MATARAM
2012
SYI’AH
A.
Pengertian dan asal-usul kemunculan syi’ah
Syi’ah
dilihat dari segi bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok,
sedangkan secara terminologis adalah sebagai kaum muslim yang dalam
bidangsepiritual dan keagamaannya selalu kepada keturunan Nabi Muhammad SAW.atau
orang yang disebut sebagai ahlal-bait.poin penting dalam doktrin syi’ah adalah
pernyataan bahwa segala petunjuk agama itu bersumber dari ahl al-bait. Mereka
menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan al-bait atau
para pengikutnya.
Menurut thobathbai, istilah sy’ah untuk pertama
kalinya ditujukan pada para pengikut Ali (syi’ah Ali),pemimpin pertama ahl
al-bait pada masa Nabi Muhammad SAW.para pengikut ali yang disebut syi’ah itu
diantaranya adalah Abu Dzar Al-Ghiffari,Miqad bin Al-Aswad dan Amar binYasir.
Pengertian
bahasa dan terminology diatas hanya merupakan dasar yang membedakan syi’ah
dengan kelompok islam yang lain.didalamnya belum ada penjelasan yang memadai
mengenai syi’ah berkut doktrin-doktrinya. Meskipun demikian pengertian diatas
merupakan titik tolak penting bagi mazhab syi’ah dalam mengembangkan dan
membangun dokterin-dokterinya meliputi segala aspek kehidupan seperti imamah,taqiyah,mut’ah
dan sebagainya.
Mengenai munculnya syi’ah dalam sejarah,
terdapatperbedaan pendapat dikalangan para ahli.menurut Abu Zahrah ,syi’ah
mulai muncul pada akhir pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan
berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.adapun menurut watt,syi’ah
baru benar- benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu’awiyah
yang dikenal dengan perang siffin. Dalam peperangan in,sebagai respon atas
penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Mu’awiyah,pasukan Ali
diceritakan terpecah menjadi dua,satu kelompokmendukung sikap Ali-kelak disebut
syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali, kelak disebut khawarij.
Kalangan syi’ah sendiri berpendapat bahwa
kemunculan syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khalifa) Nabi SAW.mereka
menolak kekhalifahan Abu Bakar,Umar bin Khathab dan Usaman bin affan karena
dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thaliblah yang berhak menggantikan
Nabi.kepemimpinan Ali dalam pandangan syi’ah tersebut sejalan dengan
isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW. Diceritakan bahwa Nabi pada saat
itu mengatakan bahwa orang yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi
penerus dan pewarisnya.selain itu, sepanjang kenabian Muhammad,Ali merupan
orang yang menunjukan perjuangan dan pengabdian yang luar biasa besar.
Bukti utama tentang sahnya Ali sebagai
penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. diceritakan bahwa ketika kembali
dari haji terakhir dalam perjalanan dari mekkah ke madinah, disuatu padang
pasir yang bernama Ghadir Khumm, Nabi
memilih Ali sebagai penggantinya dihadapan massa yang penuh sesak menyertai
beliu.pada peristiwa itu Nabi tidak hanya menetapkan Ali sebagai pemimpin umum
umat (walyat-I’ammali), tetapi juga menjadikan Ali sebagaimana Nabi
sendiri, sebagai pelindung (wali) mereka. Namun, realitas berbicara lain.
Berlawanan dengan harapan mereka, justru
ketika Nabi wafat dan jasadnya belum dikuburkan, sedangankan anggota
keluarganya dan beberapa orang sahabat sibuk dengan persiapan dan upacara
pemakamannya, teman dan para pengikut Ali mendengar kabar adanya kelompok lain
yang telahpergi ke masjid tempat umat berkumpul menghadapi hilangnya pemimpin
yang tiba-tiba. Kelompok ini, yang kemudian menjadi mayoritas, bertindak lebih
jauh, dan sangan tergesa-gesa memilih pimpinan kaum muslimin dengan maksud
menjaga kesejah teraan umat dan memecahkan masalah mereka saat itu. Mereka
melakukan hal itu tanpa berunding dengan ahlul bait, keluarga, atau pun
para sahabat yang sedang sibuk dengan upacara pemakaman, dan sedikitpun tidak
memberitahukan mereka. Dengan demikian, kawan-kawan ali dihadapkan kepada suatu
keadaan yang sudah tak dapat berubah lagi.
Berdasarkan realitas itu, muncul sikap
dikalangan sebagia kaum muslimin yang menentang kekhalifahan dan menolak kaum
mayoritas dalam masalah kepercayaan-kepercayaan tertentu. Mereka tetap
berpendapat bahwa pengganti nabi dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali.
Mereka berkeyakinan bahwa semua persoaalan kerohanian dan agama harus merujuk
kepadanya serta mengajak masyarakat untuk mengikutinya. Iilah kemudian yang di
sebut dengan syi’ah. Namun, lebih dari itu, seperti yang di katakana
Naser, sebab utama munculnya syi’ah terlaetak pada kenyataan bahwa
kemungkinan ini ada wahyu islam sendiri, sehingga mesti di wujudkan.
Perbedaan pendapat dikalangan para ahli
mengenai kalanga syi’ah merupaka sesuatu yang wajar. Para ahli berpegag teguh
pada fakta sejarah ‘perpecahan’ pada islam yang memang mulai mencolok pada mass
pemeritahan Usman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat
pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnyasetelah perang
siffin. Adapun kaum syi’ah, berdasarkan hadis-hadis yang mereka terima dari
ahlul bait, berpendapat bahwa perpecahan itu sudah mulai ketika Nabi SAW wafat
dan kekhalifahan jatuh ketangan Abu Bakar. Segera setelah itu terbentuklah
syi’ah. Bagi mereka padamasa kepemimpinan Khulafa Ur-Rasyidin sekalipun,
kelompok syi’ah sudah ada. Mereka bergerak dibawah permukaan untuk mengajarkan
dan menyebarkan doktrin-doktrin syi’ah kepada masyarakat. Tampaknya syi’ah
sebagai salah satu faksi politik islam yang bergerak secara terang-terangan,
memang baru muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, sedangkan syi’ah
sebagai doktrin yang di ajarkan secara diam-diam oleh ahlul bait segera muncul
setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Syi’ah mendapatkan pengikut yang besar
terutama pada masa dinasti Umaiyyah. Hal ini menurut abu Zahrah merupakan
akibat dari perlakuan kasar dan kejam dinasti ini terhadap Ahlul Bait diantara
bentuk kekerasan itu adalah Yazid bin Umaiyyah pernah memerintahkan pasukannya yang
di pimpin oleh Ibn Yazid untuk memenggal kepala Husein bin Ali di karbala.
Diceritakan bahwa setelah kepala Husein di penggal, kepala Husein dibawa ke
hadapan Yazid dengan tonkatnya Yazid memukul cucu Nabi Muhammad SAW, yag pada
waktu kecilnya sering di cium Nabi Muhammad SAW. Kekejaman seperti ini
menyebabkan kaum muslim tertarik dan mengikuti mazhab Syi’ah atau paling tidak
menaruh simpati yag dalam terhadap tragedy yang menimpa Ahlul Bait.
Dalam perkembangannya, elain
memperjuangkan hak ke khalifahan Ahlul Bait di hadapan dinasti Umaiyyah dan
dinasti Abbasiyah, syi’ah juga mengembangkan dotrin-doktrinnya sendiri.
Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai lima rukun iman, yakni tauhid
(kepercayaan terhadap keesaan ALLAH SWT), nubuwwah (kepercayaan kepada kenabian),
ma’ad (kepercayaan adanya hidupdi akhirat), imamah (kepercayaan terhadap adanya
imamah yang merupakan hak Ahlul Bait), dan adl (keadilan ilahi). Dalam
ensklopedia islam Indonesia ditulis bahwa perbedaan antara sunni dan syi’ah
terletak pada doktrin imamah. Meskipun mempunyai landasan keimanan yang sama,
syi’ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah,
kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama
dipicu oleh masalah doktrin imamah. Diantara sekte-sekte syi’ah itu adalah
Itsna Asya’ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah, dan Ghullat.
B.
SYI’AH ITSNA ASY’ARIYAH (SYI’AH DUA BELAS/SYI’AH IMAMIYAH)
1.
Asal-usul Penyebutan Imamiyah dan Syi’ah Itsna Asy’ariyah
Dinamakan syi’ah
imamiyah kerena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalamarti
pemimpin religio politik. Yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya karena
kecakapannya kemuliyaan ahlaknya, tetapi juga karena ia telah ditunjuk nas dan
pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Ide tentang hak
Ali dan keturunannya untuk menduduki jabatan khalifah telah ada sejak Nabi
wafat, yaitu dalam perbincangan politik di Saqifah Bani Sa’idah.
Syi’ah Itsna
Asy’ariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad SAW seperti yang di tunjukan nas. Adapun penerima
waris setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu
Hasan bin Ali kemudian Husein bin Ali sebagaimana yang disepakati. Setelah
Husein adalah Ali Zaenal Abidin,
kemudoan secara berturut-turut yaitu Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far
Ash-Shadiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan
Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam ke dua belas.
Demikianlah, karena berbaiat dibawah imamah dua belas imam, mereka dikenal
dengan sebutan Syi’ah Itsna Asy’araiyah.
Nama dua belas ini
mengandung pesan penting dalam tinjauan sejarah, yaitu golongan ini terbentuk setelah
lahirnya kedua belas imam yaitu kira-kira pada tahun 260 H/878 M. pengikut
sekte ini menganggap imam kedua belas, Muhammad Al-Mahdi, dinyatakan gaibah.
Muhammad Al-Mahdi bersembunyi di runag bawah tanah rumah ayahnya di Samarra dan
tidak kembali. Itulah sebabnya, kembalinya imam Al-Mahdi ini selalu di
tunggu-tunggu pengikut Syi’ah Itsna Asy’ariyah. Cirri khas kehadiranya adalah
sebagai ratu adil yang akan turun di akhir zaman. Oleh sebab itu Muhammad
Al-Mahdi dijuluki sebagai Imam Mahdi Al-Muntazhar (yang ditunggu).
2.
Doktrin-doktrin Syi’ah Itsna Asy’ariyah
Didalam sekte
syi’ah itsna asy’ariyah dikenal dengan konsep Usulluddin. Konsep ini menjadi
akar atau fondasi paragmatisme agama. Konsep Usuluddin mempunyai lima akar.
a.
Tauhid
ALLAH SWT adalah Esa baik esensi maupun
ekstensi-Nya. Keesaan ALLAH SWT adalah mutlak. Ia bereksistensi dengan
Sendiri-Nya. ALLAH SWT adalah qadim. Maksudnya, ALLAH SWT bereksistensi dengan
sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu diciptakan ileh ALLAH
SWT. ALLAH SWT Maha tahu. Maha Mendengar. Selalu hidup. Mengerti semua bahasa.
Selalu benar dan bebas berkehendak. Keesaan ALLAH SWT tidak tersusun. ALLAH SWT
tidak membutuhkan sesuatu. Ia berdiri sendiri. Tidak diatasi oleh ciptaan-Nya.
ALLAH SWT tidak bias dilihat dengan Mata biasa.
b.
Keadilan
ALLAH SWT menciptakan kebaikan didalam
semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah menghiasi ciptaan-Nya dengan
ketidak adilan. Karena ketidak adilan dan kezaliman terhadap yang lain
merupakan tanda kebodohan dan keidak mampuan dan sifat ini jauh dari
keabsolutan dan kehendak ALLAH SWT.
c.
Nubuwwah
Setiap mahluk sekalipun telah diberi
insting, masihmembutuhkan petunjuk, baik petunjuk dari ALLAH SWT maupun dari
manusia. Rasul merupakan petunjuk hakiki utusan ALLAH SWT yang secara
transenden di utus untuk memberikan acuan dalam membedakan anatara yang baik
dan yang buruk didalamsemesta. Dalam keyakinan syi’ah itsna asy’ariyah , ALLAH
SWT telah mengutus 124.000 Rasul untuk member petunjuk kepada manusia.
Syi’ah Itsna Asy’ariyah percaya mutlak
dengan ajaran tauhid dengan kerasulan sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW
dan tidak ada nabi atau rasul setelah Muhammad SAW. Mereka percaya adanya
kiamat. Kemurnian dan keaslian Al-Qur’an jauh dari tahrif, perubahan, atau
tambahan.
d.
Ma’ad
Ma’ad adalah hari akhir (kiamat) untuk
menghadap pengadailan ALLAH di hari akhirrat. Setiap muslim harus yakin akan
keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lurus dalam
pengadilan ALLAH. Mati adalah periode transit dari kehidupan dunia menuju
kehidupan akhirat.
e.
Imamah
Imamah adalah institusi yang di
inagurasikan ALLAH SWT untuk memberikan petunjuk manusia yang di pilih dari
keturunan Ibrahim dan didelegasikan kepada keturunan Nabi Muhammad SAW sebagai
Nabi dan Rasul terakhir.
Selanjutnya dalam sisi yang bersifat
mahdah, Syi’ah Itsna Asy’ariyah berpikir kepada delapan cabangagama yang di
sebut dengan Furu Ad-Din. Delapan cabang itu terdiri atas Salat, Puasa, Haji,
Zakat, Khumus atau pajak sebesar seperlima dari penghasilan, Jihad, Al-Amr bi
Al-Ma’ruf, dan An-Nahyu an-Al-Munkar.
C.
SYI’AH SAB’IYAH (SYI’AH TUJUH)
1.
Asal-usul Penyebutan Syi’ah Sab’iyah
Istilah Syi’ah Sab’aiyah
dianalogikan dengan syi’ah Itsna Asy’ariyah. Istilah ini memberikan pengertian bahwa
sekte Syi’ah Sab’iyah hanya mengaku tujuh imam, yaitu Ali, Hasan, Husein,Ali
Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Ismail bi Ja’far.
Karena di nisbatkan kepada imam yang ke tujuh, Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq,
Syi’ah Sab’iyah di sebut juga Syi’ah Ismailiyah.
Berbeda dengan Syi’ah
Itsna Asy’ariyah dia menbatalkan Ismail bin Ja’far sebagai imam ke tujuh karena
disamping memiliki kebiasaan yang tidak terpuji karena juga dia wafat (143
H/760 M) mendahului ayahnya Ja’far (w. 765). Sebagai penggantinya adalah Musa
Al-Kadzim, adik Islamil. Syi’ah Sab’iyah menolak pembatalan tersebut,
berdasarkan system pengangkatan imam dalam Syi’ah dan menganggap ismail sebagai imam ke tuajuh
dan sepeninggalnya diganti oleh putranya yang tertua, Muhammad bin Ismail.
2.
Doktrin-doktrin Imamah dalam Pandangan Syi’ahSab’iyah
Para pengikut Syi’ah
sab’iya percaya bahwa islam dibangun oleh tujuh pilar seperti yang di jelaskan
Al-Qadhi An-Nu’man dalam Da’aim Al-Aslam. Tujuh pilar tersebut adalah iman,
taharah, salat, zakat, saum, haji, dan jihat. Kemudian Qadhi An-Nu’man (974 M)
merincikannya sebagai berikut.
Iman kepada ALLAH, tiada
tuhan selain ALLAH dan Nabi Muhammad utusan ALLAH, iman kepada syurga, iman
kepada neraka, iman kepada hari kebangkitan, iman kepada hari pengadilan, iman
kepada Nabi dan Rasul, iman kepada imam, percaya, mengetahui, dan membenarkan
imam zaman.
Dalam pandangan kelompok
Syi’ah Sab’iyah, keimanan hanya bias di terima bila sesuai dengan keyakinan
mereka, yakni melalui kesetiaan kepada imam zaman. Imam adalah seseorang yang
menuntun umatnya kepada pengetahuan. Dengan pengetahuan tersebut, seorang muslim
akan menjadi seorang mukmin yang sebenar-benarnya. Untuk itu, mereka ber
argument bahwa manusia akan memasuki kehidupan spiritual, kehidupan format
materil sebagai individu dan kehidupan social yang semuanya memerlukan aturan.
Manisia tidak dapat melalui kehidupan itu, kecuali dengan bimbingan, yang
meliputi kepemimpinan dan pembaharuan, pengetahuan, aturan-aturan, dan
bimbingan pemerintah yang berdasarkan islam. Pribadi yang dapat melakukan
bimbingan seperti itu adalah pribadi yang ditunjukan oleh ALLAH SWT dan
Rasul-Nya dan Rasul pun menunjuknya atas perintah ALLAH SWT. Imam adalah
penunjuk melalui wasiat.
Syarat-syarat seorang
imam dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah adalah sebagai berikut.
a.
Imam
harus berasal dariketurunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah kemudian
yang di kenal dengan Ahlul Bait.
b.
Berbeda
dengan aliran Kaisaniyah, pengikut Muktar Ats-Tsaqati, mempropagandakan bahwa
keimanan harus dari keturunan Ali melalui melalui pernikahannya dengan seorang
wanita dari Bani Hanifah dan mempunyai anak yang bernama Muhammad bin
Al-Hanifah.
c.
Imam
harus berdasarkan penunjukan atau nas. Syi’ah Sab’iyah meyakini bahwa setelah
Nabi wafat, Ali menjadi imam berdasarkan penunjukan khusus yang dilakukan Nabi
sebelum beliau wafat. Suksesi keimanan menurut doktrin dan tradisi syi’ah harus
berdasarkan nas oleh imam terdahulu.
d.
Keimaman
jatuh pada anak tertua. Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam
memperoleh keimaman dengan jalan wiratsah. Jadi, ayahnya yang menjadi imam
menunjuk anaknya yang paling tua.
e.
Imam
harus maksum. Sebagaimana sekte Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam
harus terjaga darisalahsatu dosa. Bahkan lebih dari itu, Syi’ah Sab’iya berpendapat
bahwasungguhpun imam berbuat salah, perbuatannya itu tidak salah. Keharusan
maksum bagi imam dapat ditelusuri dengan pendekatan sejarah. Pada sejarah Iran
pra-islam terdapat ajaran yang menyatakan bahwa raja itu merupakan keturunan
tuhan, atau seorang raja adalah pengusa yang mendapat tetesan ilahi. Oleh sebab
itu, seorang raja harus maksum.
f.
Imam
harus di jabat oleh seorang yang paling baik berbeda degan Zaidah, Syi’ah
Sab’iyah dan Syi’ah dua belas tidak membolehkan anya imam mafdul. Dalam
pandangan Syi’ah Sab’iyah, perbuatan dan ucapan imam tidak boleh bertentangan
dengan syari’at. Sifat dan kekuasaan seseorang imam hamper sama dengan Nabi.
Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa Nabi mendapatkan wahyau, sedangkan
imam tidak mendapatkannya.
Di samping syarat-syarat diatas, Syi’ah
Sab’iyah berpendapat bahwa seorang imam harus memiliki pengetahuan dan juga
harus mempunyai pengetahuan walayah. Pengetahuan disini berarti ilmu lahir
maupun batin. Dengan ilmu tersebut, seorang imam mengetahui hal-hal yang tidak
di ketahui orang biasa.
Kedua, seorang imam harus mempunyai sifat
walayah, yaitu kemampuan batin untuk menuntun manusia kedalam rahasia-rahasia
ALLAH SWT.
3.
Ajaran Syi’ah Sab’iya Lainnya
Ajaran syi’ah lainnya
pada dasarnya sama seperti ajaran sekte-sekte Syi’ah Lainnya. Perbedaannya
terletak pada konsep kemaksuman imam, adanya aspek batin pada setiap yang
lahir, dan penolakannya terhadap Al-Mahdi Al-Muntazar. Bila dibandingkan
denagan sekte Syi’ah lainnya, Sabiya sangat ekstrim dalam dalam kemaksuman
imam, walaupun kelihatan melakukan kesalahan dan menyimpang dari syari’at, ia
tidak menyimpang karena mempunyai pengetahuan yang tidak dimiliki manusia
biasa.
Adasatu sekte dalam
Sab’iyah yang berpendapat bahwa ALLAH mengambil tempat didalam diri imam. Oleh
karena itu imam harus di sembah. Salah seorang dari dinasti Fatimiyah, Al-Hakim
bin Amirillah, berkeyakinan bahwa didalam dirinya terdapat ALLAH sehingga ia
memaksa rakyat untuk menyembahnya.
Menurut Sab’iyah,
Al-Qur’an memiliki makna batin selain makna lahir. Dikatakan bahwa segi-segi
lahir atau tersurat dari syari’at itu
diperuntuhkan bagi orange awamyang kecerdasannya terbatas dan tidak memiliki
kesempurnaan rohani. Bagi orang-orang tertentu, mungkin saja terjadi perubahan dan
peralihan dan bahkan penolakan terhadap pelaksanaan syari’at tersebut karena
mendasarkan pada yang batin tadi. Yang dimaksud dengan orang-orang tertentu
ialah para imam yang memiliki ilmu lahir dan batin.
D.
SYI’AH ZAIDIYAH
1.
Asal-usul Penamaan Zaidiyah
Di sebut Zaidiyah
karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai imam ke lima, putra imam ke
empat, Ali Zainal Abidin. Kelompok ini berbeda dengan sekte Syi’ah lain yang
mengakui MuhammadAl-Baqir, putra Zainal Abidin yang lain, sebagai imam ke lima.
Dari nama Zaid bin Ali inilah nama Zaidiyah diambil. Syi’ah Zaidiyah merupakan
sekte Syi’ah yang moderat. Abu Zahrah menyatakan bahwa kelompok ini mrupakan
sekte yang paling dekat dengan Sunni.
2.
Doktrin Imamah Menurut Syi’ah Zaidiyah
Imamah,
sebagaimana telah di sebutkan, merupakan doktrin fundamental dalam Syi’ah
semacam umum. Berbeda dengan doktrin imamah yang di kembangkan syi’ah lain,
Syi’ah Zaidiyah mengembangkan doktrin imamah yang tipikal. Kaum Zaidiyah
menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan
Nabi SAW. Telah di tentukan nama dan orangnya oleh Nabi, tapi hanya di tentukan
sifat-sifatnya saja. Ini jelas berbeda dengan sekte Syi’ah lain, yang percaya
bahwa Nabi SAW. Telah menunjuk Ali sebagai orang yang pantas menjabat sebagai imam
setelah Nabi wafat karena Ali memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh orang lain, seperti
keturunan Bani Hasyim, wara (saleh, menjauhkan diridari segala dosa), bertakwa,
baik, dan membaur dengan rakyat untuk mengajak mereka hingga mengakuinya
sebagai imam.
Selanjutnya
menurut Ziydiyah, seorang imam paling tidak harus memiliki cirri-ciri sebagai
berikut. Pertama, ia merupakan keturunan Ahlul Bait, baik melalui garis
keturunan Hasan atau pun Husein. Hal ini mengimplikasikan penolakan mereka atas
system pewarisan dan nas kepemimpinan. Kedua, memiliki kemampuan
mengangkat senjata, sebagai uaya mempertahankan diri atau menyerang atas dasar
ini mereka menolak mahdiisme yang merupakan salah satu cirri sekte syi’ah
lainnya, baik yang gaib maupun yang di bawah umur. Bagi mereka, pemimpin yang
menegakkan kbenaran dan keadilan adalah Mahdi. Ketiga, memiliki
kecendrungan intelektualisme yang dapat dibuktikan melalui ide dan karya dalam
bidang keagamaan. Mereka menolak kemaksuman imam, bahkan mengembangkan doktrin
iamam Al-Mahfdul. Artinya, seseorang dapat di pilihmenjadi imam meskipun ia bukan
yang terbaik (mafdul) dan pada saat yang sama ada yang afdal.
Dengan diktrin
imamah seperti itu, tidak heran jika Syi’ah Zaidiya sering mengalami kerisis
dalam ke imaman. Hal ini disebabkan karena terbentuknya kesempatan bagi setiap
keturunan Ahlul Bait untuk menobatkan dirinya sebagai imam. Ini berbeda dengan
Syi’ah Itsna Asy’ariyah yang hanya mengakui keturunan Husein sebagi imam. Dalam
sejarahnya, krisis keimaman dalam Syi’ah Zaidiyah ini di sebabkan oleh dua hal.
Pertama, ada beberapa pemimpin yang memproklamasikan diri sebagai imam. Kedua,
tidak seorangpun yang memproklamirkan diri atau pantas menjadi imam. Dalam
menghadapi krisis krisis ini, Zaidiyah mengembangkan mekanisme pemecahannya,
diantaranya membagi tugas imam kepada dua individu, dalam bidang politik dan
dalam bidang ilmu sastra keagamaan. Menurut mereka imam bukan saja memiliki
kekuatan rohani yang di perlukan bagi seorang pemimpin keagamaan, tetapi juga
bersedia melakukan perlawanan demi cita-cita suci sehingga dihormati oleh
umatnya. Selain menolak berbagai dongeng tentang kekuatan adikodrati para imam,
mereka juga mengingkari sifat keilahian para imam. Imam bagi mereka adalah
pemimpin dan guru bagi kaum muslim, aktif di tegah kehidupan, dan berjuang
terang-terangan demi cita-citanya. Dengan demikian imam dapat berfungsi sebagai
pemimpin politik dan keagamaan yang secara kongkrit berjuang demi umat,
daripada sebagai tokoh adikodrati yang suci tanpa dosa.
3.
Doktrin-doktrin Syi’ah Zaidiyah Lainnya
Bertolak dari
doktrin tentang Al-Imamah Al-Mafdul, Syi’ah Zaidiyahberpendapat bahwa
kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sah dari sudut pandang
islam. Mereka tidak merampas kekuasaan dari tangan Ali bin Abi Thalib. Dalam
pandangan mereka, jika ahlul wa al-aqd telah memilih
seorang imam dari kalangan kaum muslim, meskipun itu tidak memenuhi sifat-sifat
keimanan yang di tetapkan oleh Zaidiyah dan telah di baiat oleh mereka,
keimanannya menjadi sah dan rakya wajib berbaiaat kepadanya. Selain itu, mereka
juga tidak mengafirkan seorang pun sahabat. Mengenai hal ini, Zaid sebagaimana
dikutip Abu Zahrah mengatakan:
Sesungguhnya
Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling utama. Kekhalifahannya di
serahkan kepada Abu Bakar karena mempertimbangkan kemaslahatan dan kaidah agama
yang mereka pelihara, yaitu untuk meredam timbulnya fitnah dan memenangkan
rakyat. Era peperangan yang terjadi pada masa kenabian barusaja berlalu. Pedang
Amir Al-Mu’minin Ali belum lagi kering dai darah orang-orang kafir. Demikian
kedengkian suku-suku tertentu untuk menuntut balas belumlah surut. Sedikitpun
hati kita tidak pantas untuk cenderung kesitu, jangan adalagi leher terputus
karena masalah itu. Inilah yang di namakan kemaslahatan bagi orang-orang yang
mengenal dengan kelemah lembutan dan kasih saying, juga bagi orang yang lebih
tua dan lebih dahulu memeluk islam, serta yang dekat dengan Rasulullah.
Perinsip inilah
menurut Abu Zahrah, yang menyebabkan banyakorang keluar dari syi’ah Zaidiyah.
Salah satu implikasinya yati berkurangnya dukungan terhadap zaid ketika ia
berperang melawan pasukah Hisyam bin Abdul Malik. Hal ini wajar mengingat salah
satu doktrinSyi’ah yang cukup mendasar adalah menolak ke khalifahan Abu Bakkar
dan Umar dan menuduh mereka sebagai perampas hak kekhalifahan dari yagan Ali.
Penganut Syi’ah Zaidiyah
percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal di dalam neraka jika
ia belum bertaubat dengan pertaubatan yang sesungguhnya. Meskipundemikian, di
dalam bidang ibadah, zaidiah tetap cenderung menunjukan symbol dan amalan
Syi’ah pada umumnya. Dalam azan misalnya, mereka member selingan ungkapan hayya
‘ala khair al-amal, takbir sebanyak lima kali dalam shalat jenazah, nenolak
sahnya mengusap kaus kaki, menolak imam yang tidak saleh dan menolak binatang
sembelihan bukan muslim.
E.
SYI’AH GHULAT
1.
Asal-usul Penamaan Syi’ah Ghulat
Istilah Ghulat
berasal dari kata ghala-yaghlu-ghuluw artinya bertambah dan naik, Ghala bi
addin artinya memperkuat dan menjadi ekstrim sehinnga melampaui batas. Syi’ah
Ghulat adalah kelompok yang mendukung ali yang bersikap belebih-lebihan atau
ekstrim. Lebih jauh Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syi’ah Ghulat adalah kelompok
yang menepatkan ali pada derajat ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada
derajat kenabian, bahkan lebih tinggi dari pada Nabi Muhammad SAW.
Ghuluw yang di
berikan kepada kelompok ini berkaitan dengan pendapatnya yang janggal, yakni
ada beberapa orang yang secara khusus di anggap tuhan dan ada juaga beberapa
orang yang di anggap Rasul setelah Nabi Muhammad. Selain itu mereka
mengembangkan diktrin-doktrin ekstrim lainnya seperti tanasukh, hulul,
tasbih, ibhah.
Mengenai jumlah
sekte Syi’ah Ghulat, para mutakalimi8n berbeda pendapat. Syahratani membagi
sekte Ghulat menjadi 11 sekte, sedangkan Al-Ghurabimembaginya menjadi 15 sekte.
Sekte-sekte yang terkenal antara lain: Sabahiyah, Kamaliyah, Albaiyah,
Mughriyah, Mansuriyah, Khattabiyah, Kayaliyah, Hisamiyah, Nu,miyah, Yunusiyah
dan Nasyisiyah wa Ishaqiyah.
Nama-nama sekte tersebutmenggunakan nama-nama tokoh yang
memimpinnya. Sekte-sekte ini awalnya hanya satu, yakni faham yang dibawa oleh
Abdullah bin Saba’ yang mengajarkan bahwa Ali adalah tuhan. Kemudian karena
adanya perbedaan perinsip dan ajaran Syi’ah Ghulat terpecah menjadi beberapa
sekte. Meskipu demikian seluruh sekte ini pada perinsipnya menyepakati tentang
Hlul dan Tamasuk. Faham ini di pengaruhi oleh system agama Babilonia kuno yang
ada di irak, seperti Zoroaster, Yahudi, Manikam, Mazdakisme.
2.
Doktrin-doktrin Syi’ah Ghulat
Mnurut
Syahrastani, ada empat doktrin yang membuat mereka ekstrim yaitu Tanasuhk,
Bada’, Raj’ah, dan Tasbih. Moojan Momen menambahkannya denga hulul
dan ghyba. Tanasuhk adalah keluarnya roh dari satu jasad dan
mengambil tempat pada jasad yang lain. Faham ini diambil dari falsafah hindu.
Penganut agama hindu berkeyakinan bahwa roh disiksa dengan cara di pindah
ketubuhhewan yang lebih rendah dan diberi pahala dengan cara berpindah dari
satu kehidupan kekehidupan yang lebih tinggi. Syi’ah Ghulat menerapkan faham ini
adalah konsep imamahnya, sehingga ada yang menyatakan seperti Abdullah bin
Muawiya bin Abdullah bin Ja’far bahwa roh adalah berpindah kepada adam
seterusnya kepada imam-imam secara turun trmurun.
Bada’ adalah
keyakinan bahwa ALLAH mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmunya,
serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memrintahkan yang
sebaliknya. Syarastani menjelaskan lebih lanjut bahwa Bada’ dalam pandangan
Syi’ah Ghulat, mempunyai beberapa arti menampakan sesuatu yang bertentangan
dengan yang di ketahui ALLAH. Bila berkaitan dengan kehendak artinya
memperlihatkan yang benar dan menyalahi yang di kehendaki dan hokum yang di
terapkan-Nya. Bila berkaitan dengan perintah. Arinya memrintahkan hal
lain yang bertentangan dengan perintah sebelumya. Faham ini dipilih oleh
Mikhtar ketika mendakwahkan dirinya menetahui hal-hal yang akan terjadi, baik
melalui wahyu yang diturunkan kepadanya atau melalui surat dari imam. Jika ia
menjadikan kepada pengikutnya akan terjadi sesuatu, lalu hal itu benar-benar
terjadi seperti yang di ucapkannya, maka itu di justifikasikan sebagai bukti
kebenaran ucapannya. Namun jika terjadi sebaliknya, ia mengetakan tuhan
menghendaki Bada’.
Raj’ah ada
hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayayi bahwa Imam Mahdi
Al-Muntazahar akan dating ke bumi. Faham Raj’ah dan Mahdiyah ini merupakan
ajaran seluruh Syi’ah. Namun mereka
berbeda pendapat tentang siapa yang akan kembali. Mereka menyatakan bahwa yang
akan kembali itu adalah Ali, sedangkan sebagian lainnya menyatakan Ja’far
Ash-Shadiq, Muhammad bin Al-Hanafiyah, bahkan ada yang mengatakan muhktar
Ats-Tsaqafi.
Tasbih artinya
menyeruoa, mempersamakan,. Syi’ah Ghulat menyerupakan salah seorang imam mereka
dengan tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan mahluk. Tasbih ini diambil dari
faham hululiah dan tanasuhk dengan khalik.
Hulul artinya
Tuhan berada pada setiap tempat, berbicara dengan semua bahasa, dan ada pada
setiap individu manusia. Hulul bagi syi’ah ghulat berarti tuhan
menjelma dalam diri imam sehingga imam harus di sembah.
Ghayba artinya
menghilangnya imam mahdi . ghayba merupakan kepercayaan Syi’ah bahwa imam Mahdi
ituada di dalam negeri ini dan tidak dapat di lihat dengan mata biasa. Konsep
Ghayba pertama kali diperkenalkan oleh Mukhtar Ats-Tsaqafi tahun 66 H/686 M di
kufa ketika mempropagandakan Muhammad nin Hanafiyah sebagai Imam Mahdi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar